Data Satelit NASA Ungkap Fakta Pilu: Gempa Venezuela Hancurkan 58 Ribu Bangunan

fin.co.id - 30/06/2026, 16:23 WIB

Data Satelit NASA Ungkap Fakta Pilu: Gempa Venezuela Hancurkan 58 Ribu Bangunan

Lebih dari 58.000 bangunan terindikasi rusak atau hancur akibat gempa kembar dahsyat di Venezuela.

fin.co.id - Gempa bumi kembar dahsyat yang melanda Venezuela pekan lalu merusak atau menghancurkan lebih dari 58.000 bangunan. Hal itu terungkap dalam penilaian awal data satelit yang diterbitkan oleh badan antariksa AS, NASA.

Bencana alam berskala masif ini menjadi salah satu torehan sejarah terkelam bagi wilayah Amerika Selatan. Tercatat sekitar 1.700 orang tewas, dan ribuan lainnya masih hilang setelah gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo – gempa terkuat yang melanda negara Amerika Selatan itu dalam lebih dari seabad.

Kombinasi getaran tektonik yang sangat kuat tersebut meluluhlantakkan pusat-pusat pemukiman warga dalam sekejap, meninggalkan duka mendalam bagi negara tersebut.

Analisis Radar Sentinel-1 Deteksi Kerusakan Massal dari Luar Angkasa

Melalui pemantauan jarak jauh yang canggih, para ahli mampu memetakan tingkat keparahan dampak bencana secara cepat dari orbit bumi.

“Sekitar 58.870 bangunan kemungkinan rusak atau hancur di seluruh wilayah yang terkena dampak” berdasarkan data radar satelit yang dikumpulkan pada 25 Juni, sehari setelah gempa bumi, menurut peneliti Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek dari Oregon State University.

Kedua peneliti tersebut mengutip data dari satelit pencitraan radar resolusi tinggi Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa. Instrumen canggih ini mampu menembus awan dan memetakan deformasi permukaan tanah pasca-bencana dengan akurasi tinggi.

Meskipun menyajikan angka yang fantastis, para ilmuwan tetap mengingatkan bahwa kalkulasi ini membutuhkan proses pencocokan data riil di sektor terdampak.

“Ini adalah penilaian awal dan cepat. Ini mencerminkan perubahan permukaan yang tiba-tiba dan konsisten dengan kerusakan,” tulis para peneliti, menambahkan bahwa angka tersebut hanya boleh dibaca sebagai indikator dan belum diverifikasi di lapangan.

Perbedaan Data Lapangan dan Misi Kemanusiaan NASA

Di sisi lain, otoritas internal pemerintah setempat juga terus bergerak aktif melakukan pendataan manual secara bertahap. Hasil hitung sementara dari pihak birokrasi memperlihatkan angka yang berbeda karena keterbatasan jangkauan verifikasi langsung.

Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez melaporkan pada hari Senin bahwa 855 bangunan telah rusak, termasuk 189 “runtuh total.”

Perbedaan angka yang cukup signifikan antara laporan fisik dan kalkulasi orbital ini lumrah terjadi pada fase awal tanggap darurat bencana berskala besar. Oleh sebab itu, teknologi pemantauan ruang angkasa menjadi instrumen navigasi yang sangat krusial bagi para relawan.

NASA mengatakan bahwa satelitnya “memberikan dukungan penting, menangkap citra dan data untuk membantu tim di lapangan menilai dampak dan memandu upaya penanggulangan.” Melalui bantuan visual ini, tim penyelamat bisa memetakan skala prioritas dan menyalurkan bantuan logistik secara efektif ke zona-zona paling terisolasi.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID