fin.co.id -Venezuela masih berjuang menangani dampak dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara itu pada Rabu malam 24 Juni 2026.
Hingga Kamis, jumlah korban tewas dilaporkan meningkat menjadi sekitar 235 orang, sementara sedikitnya 4.300 orang lainnya mengalami luka-luka. Tim penyelamat terus melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Menteri Kesehatan Venezuela, Carlos Alvarado, mengatakan sebagian besar korban meninggal dunia tiba di fasilitas kesehatan tanpa tanda-tanda kehidupan.
"Sayangnya, kami telah menerima sekitar 235 pasien yang tiba tanpa tanda-tanda vital atau meninggal saat tiba di fasilitas kesehatan kami," kata Menteri Kesehatan Carlos Alvarado kepada media pemerintah, dilansir dari AP, Jumat 26 Juni 2026
Pemerintah memperkirakan jumlah korban masih akan terus bertambah karena ribuan orang dilaporkan hilang setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara tersebut. Gempa itu menjadi salah satu yang terkuat yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad dan guncangannya dirasakan hingga ke sejumlah negara di kawasan.
Selain menimbulkan kerusakan besar di Venezuela, gempa juga menyebabkan ribuan bangunan dievakuasi hingga ke wilayah Amazon, Brasil.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya kemanusiaan, Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Kamis memutuskan memberikan pengecualian sementara terhadap sebagian sanksi ekonomi hingga 23 Oktober.
Kebijakan tersebut memungkinkan transaksi yang berkaitan dengan bantuan penanganan bencana gempa di Venezuela yang sebelumnya dilarang.
Di berbagai kota di wilayah utara Venezuela, warga berbondong-bondong turun ke jalan untuk mencari anggota keluarga yang hilang di antara puing-puing bangunan. Korban selamat dievakuasi dalam kondisi berlumuran debu dan darah, termasuk anak-anak serta hewan peliharaan.
Televisi pemerintah Venezuela menayangkan sejumlah proses penyelamatan dramatis. Salah satunya memperlihatkan seorang perempuan yang terjebak di bawah lempengan beton dengan hanya telapak kakinya yang terlihat, sebelum akhirnya berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup. Namun, di luar Caracas, jumlah tim pencarian pemerintah disebut masih sangat terbatas.
Baca Juga
Di ibu kota Caracas, seorang ibu bernama Dayana Delgado mempertanyakan keberadaan alat berat yang sebelumnya dijanjikan pemerintah. Menurutnya, warga sekitar justru menjadi pihak yang menggali reruntuhan secara manual untuk mencari korban.
"Saya ingin tahu di mana anak saya berada, apakah dia terjebak di bawah reruntuhan atau berada di tempat penampungan," ujarnya mengenai putranya yang berusia delapan tahun dan hingga kini belum ditemukan.
Suasana duka menyelimuti sejumlah wilayah terdampak. Seorang ibu menangis histeris saat jenazah kedua anaknya yang masing-masing berusia tiga dan 10 tahun dibungkus selimut dan dibawa pergi. Warga lainnya terus memanggil nama anggota keluarga yang hilang, sementara sebagian hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan kehancuran di sekitar mereka.
Wilayah pesisir La Guaira, yang berada di utara Caracas, menjadi salah satu daerah dengan kerusakan dan jumlah korban terbanyak. Bandara utama Venezuela yang berada di kawasan tersebut juga ditutup akibat mengalami kerusakan sehingga menghambat distribusi bantuan.
Seorang pensiunan guru, Juan Alberto Mendano, menceritakan pengalamannya saat mencari korban di La Guaira. Di tengah puing-puing bangunan dan setelah melewati jasad korban, ia melihat seorang perempuan yang masih terjebak dan memberi isyarat meminta pertolongan.