Menkeu Optimistis Harga Pertamax Bisa Turun Seiring Pelemahan Harga Minyak

fin.co.id - 23/06/2026, 07:38 WIB

Menkeu Optimistis Harga Pertamax Bisa Turun Seiring Pelemahan Harga Minyak

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa

fin.co.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax berpotensi mengalami penurunan apabila tren harga minyak dunia terus melemah.

Hal itu disampaikan Purbaya saat menghadiri rapat bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin. Menurutnya, penurunan harga minyak global dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan makin kuat,” kata Purbaya.

Ia menjelaskan, optimisme tersebut muncul seiring meningkatnya harapan terhadap terciptanya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Jika situasi geopolitik membaik, tekanan terhadap pasar energi global diperkirakan akan berkurang.

Purbaya menuturkan, tercapainya perdamaian antara kedua negara itu juga berpotensi mendukung penguatan nilai tukar rupiah, menekan biaya pendanaan, serta mendorong peningkatan investasi.

“Artinya momentum pertumbuhan harusnya membaik ke depan. Karena kita tahu, salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan,” ujarnya menambahkan.

Menurut dia, kenaikan harga BBM non-subsidi sebelumnya memang sempat memberikan tekanan kepada masyarakat. Namun, berbagai indikator ekonomi terkini menunjukkan kondisi yang mulai membaik.

“Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada. Supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Purbaya berharap peluang perdamaian antara AS dan Iran dapat menjadi katalis bagi penurunan harga minyak dunia. Dengan demikian, kinerja ekonomi Indonesia pada semester II-2026 berpotensi mencatat hasil yang lebih positif.

Ia juga menilai perekonomian Indonesia sepanjang semester pertama 2026 tetap menunjukkan daya tahan yang kuat meskipun ketidakpastian global masih membayangi.

Sejumlah indikator ekonomi disebut berada dalam kondisi yang cukup solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen, inflasi tetap terkendali, sementara neraca perdagangan berhasil membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026.

Selain itu, cadangan devisa dinilai masih memadai, pertumbuhan kredit berada pada level dua digit, dan sektor manufaktur kembali masuk ke zona ekspansif.

Purbaya menilai rangkaian capaian tersebut menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia mulai meningkat.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca