fin.co.id - Bagi sebagian besar masyarakat, deretan mesin arcade di dalam pusat hiburan keluarga sering kali hanya dipandang sebagai sarana melepas penat di akhir pekan. Suara dentuman musik ritmik dan lampu warna-warni yang menyala dari mesin permainan menari diposisikan tak lebih dari sekadar pengisi waktu luang. Namun, persepsi tersebut berhasil dipatahkan oleh tiga talenta muda asal Indonesia. Lewat ketekunan yang konsisten, papan injak berujung membawa mereka melangkah jauh melampaui batas negara.
Siapa yang menyangka bahwa ketertarikan sederhana pada keselarasan gerak dan musik di depan layar kaca mampu mengantarkan anak bangsa berdiri tegak di podium internasional? Langkah kaki yang dulunya dimulai dari sekadar mencoba bersenang-senang, kini bertransformasi menjadi sebuah pencapaian yang mengharumkan nama komparatif Indonesia di mata dunia. Kompetisi game ritme kini bukan lagi ruang simulasi tanpa makna, melainkan telah menjelma menjadi panggung pembuktian bakat yang sesungguhnya.
Komitmen dan latihan keras tersebut akhirnya membuahkan hasil manis dalam ajang Pump It Up Dominion: Asia Pacific Tournament 2026 yang digelar di Korea Selatan. Dalam kompetisi sengit yang mempertemukan para pemain terbaik dari enam negara di kawasan Asia Pasifik tersebut, delegasi Indonesia sukses mengukir prestasi gemilang. Indonesia berhasil membawa pulang gelar Juara 1 untuk kategori Speed Female dan Juara 2 untuk kategori Speed Male, setelah menyisihkan rival-rival terberat mereka di tingkat regional.
Pencapaian luar biasa ini dirayakan secara resmi melalui sebuah konferensi pers yang diinisiasi oleh Timezone Indonesia bersama PIUVORIA, komunitas Pump It Up Indonesia, pada 10 Juni 2026. Momentum perayaan ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi atas kerja keras para atlet e-sports ritme tersebut, tetapi juga menjadi penegas bagaimana ekosistem hiburan yang positif mampu mengarahkan kegemaran masa kecil menjadi prestasi berskala internasional.
Kolaborasi Regional dan Dominasi Peserta Indonesia
Turnamen Pump It Up Dominion: Asia Pacific Tournament 2026 merupakan buah kerja sama eksklusif antara TEEG dan Andamiro. Ajang bergengsi ini dirancang untuk mempertemukan para maestro komunitas lintas negara, mulai dari Indonesia, Australia, Selandia Baru, Singapura, Filipina, hingga Vietnam.
Perjalanan para wakil Indonesia menuju panggung utama di Korea Selatan sendiri harus melewati proses penyaringan yang ketat melalui babak kualifikasi online maupun offline. Menariknya, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap game ritme ini sangat mendominasi. Pada babak final nasional yang diselenggarakan di Main Atrium Emporium Pluit Mall, tercatat ada total 242 peserta yang ikut berpartisipasi. Angka ini secara otomatis menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah delegasi peserta terbanyak sepanjang turnamen.
Tidak hanya unggul dari segi kuantitas, Indonesia juga mengukir catatan spesial dengan menjadi satu-satunya negara yang mengirimkan perwakilannya untuk kategori Freestyle di panggung utama PlayX4 yang bertempat di KINTEX, Korea Selatan. Dari ratusan peserta yang menyemarakkan kualifikasi, terpilih tiga nama terbaik yang menjadi wajah Indonesia di tingkat Asia Pasifik:
-
Rizki Arifa (Rifka): Berkompetisi di kategori Speed Female (Berhasil meraih Juara 1).
-
Chresko Willie (Willie): Berkompetisi di kategori Speed Male (Berhasil meraih Juara 2).
-
Muhammad Arwan (Awang): Berkompetisi di kategori Freestyle yang tampil memukau di panggung KINTEX.
Naveen H, CEO TEEG Indonesia, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari sinergi yang matang antara seluruh elemen pendukung.
"Keberhasilan Indonesia di Pump It Up Dominion: Asia Pacific Tournament 2026 membuktikan bahwa ekosistem yang sehat antara komunitas, industri hiburan keluarga, dan individu yang berdedikasi mampu melahirkan prestasi berkelas dunia. Di Timezone, kami percaya bahwa ruang bermain juga dapat menjadi ruang tumbuh untuk mengembangkan potensi diri. Karena itu, kami akan terus mendukung komunitas dan menyediakan wadah positif bagi generasi muda untuk berkembang serta meraih prestasi," ujar Naveen H.
Proses Panjang Memupuk Ketangkasan Fisik dan Mental
Jika menilik ke belakang, medali dan piala yang kini berada di tangan para juara tidak datang dalam waktu semalam. Ada cerita tentang konsistensi yang dipupuk sejak usia dini. Willie, misalnya, pertama kali mengenal permainan ikonik ini ketika baru menginjak usia enam tahun di Timezone Supermal Karawaci. Sementara itu, Rifka mulai mendalami keseruan kompetisi ini pada usia 17 tahun di Timezone Ambarrukmo Yogyakarta.
Perkembangan kemampuan mereka juga tidak lepas dari eksistensi PIUVORIA, komunitas yang telah menjadi wadah berkumpulnya para pencinta game ini di Indonesia sejak tahun 2002. Menurut perwakilan komunitas PIUVORIA, permainan ini memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan visual. Aktivitas ini secara intensif melatih fokus, koordinasi antara mata dan kaki, ketangkasan, kedisiplinan, hingga menjaga kebugaran fisik para pemainnya.
Melalui berbagai agenda rutin seperti gathering komunitas serta kompetisi lokal yang konsisten diadakan di berbagai gerai Timezone, para pemain mendapatkan ruang uji coba yang suportif. Lingkungan yang berkelanjutan inilah yang pada akhirnya berhasil membentuk mental bertanding para delegasi hingga siap diadu di level internasional.