Garap 3 Wilayah Krusial, Hutama Karya Terapkan Teknologi Canggih di Proyek Darurat Aceh

fin.co.id - 19/05/2026, 18:58 WIB

Garap 3 Wilayah Krusial, Hutama Karya Terapkan Teknologi Canggih di Proyek Darurat Aceh

fin.co.id - PT Hutama Karya (Persero) terus memacu pengerjaan proyek tanggap darurat serta rehabilitasi jalan dan jembatan di wilayah Aceh.

Langkah cepat ini diambil demi memulihkan kembali jalur konektivitas utama yang sempat lumpuh, sekaligus memperkokoh infrastruktur nasional di kawasan pegunungan Aceh pasca-diterjang bencana alam.

Proyek strategis ini dibagi ke dalam tiga wilayah kerja Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yaitu PPK 3.3, PPK 3.4, dan PPK 3.5.

Secara umum, ruang lingkup operasi tim di lapangan meliputi pembersihan material longsor, pembuatan jalur alternatif sementara (detour), hingga rekonstruksi bangunan secara permanen.

Proyek ini tidak sekadar memperbaiki kerusakan, melainkan juga memperkuat struktur medan agar lebih tangguh dalam mengantisipasi potensi bencana di masa depan.

Pemulihan Titik Kritis dan Fenomena Sinkhole

Pada wilayah kerja PPK 3.3 yang mencakup Ruas Sp. Uning – Bts. Gayo Lues, fokus utama tertuju pada perbaikan 22 titik longsoran, 4 titik jalan ambles, serta pembangunan 2 jembatan baru. Salah satu penanganan paling krusial berada di titik TK 62 (STA 38+250).

Di lokasi ini, badan jalan sepanjang 150 meter yang sempat amblas total, kini dikonstruksi ulang secara permanen menggunakan penahan longsor dari susunan blok beton.

Selain itu, tim juga harus menangani fenomena amblesan tanah atau Sinkhole Ketol di Aceh Tengah. Masalah ini dipicu oleh adanya aliran air di kedalaman 30 meter di bawah tanah yang berkarakter pasir, sehingga merusak struktur di atasnya.

Akibat sinkhole ini, akses yang menghubungkan Desa Simpang Balik dan Desa Blang Mancung sempat terputus total, memaksa warga memutar sejauh 2,5 kilometer lewat jalur sementara.

Langkah penanganan komprehensif pun dilakukan, mulai dari stabilisasi tanah, perbaikan dan pengalihan sistem irigasi, pembuatan detour, hingga monitoring berkala untuk mencegah amblesan susulan.

Tantangan Lereng Terjal dan Penguatan Kaki Bukit

Bergeser ke wilayah PPK 3.4 (Ruas Bts. Aceh Tengah – Blangkejeren), tantangan geografis yang dihadapi justru semakin berat. Tim harus menaklukkan area rawan di lokasi Tetumpun sepanjang 488 meter dan Tangsaran sepanjang 382 meter.

Mengingat kemiringan lereng yang sangat curam, Hutama Karya mengaplikasikan metode stabilisasi khusus lewat kombinasi shotcrete (beton semprot) dan soil nailing (paku bumi), yang diperkuat dengan pemasangan geo mattress guna menangkal erosi permukaan.

Sementara itu, penanganan di area PPK 3.5 (Ruas Bts. Gayo Lues – Kota Kutacane) difokuskan pada titik rawan seperti Longsoran Ketambe (KC-05).

FIN
FIN
Penulis

Penulis FIN.CO.ID