fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme bahwa konflik dengan Iran akan segera berakhir, di tengah munculnya laporan mengenai proposal perdamaian 14 poin yang sedang dipertimbangkan Tehran. Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa usulan dari Washington masih dalam tahap peninjauan, sementara negosiasi tidak langsung terus berlangsung melalui mediator Pakistan.
Laporan dari Axios menyebut Gedung Putih dan Iran disebut semakin dekat menuju memorandum satu halaman yang dapat menjadi dasar negosiasi nuklir lebih rinci dalam beberapa pekan ke depan. Proposal tersebut dikabarkan memuat penghentian sementara pengayaan uranium Iran, pelonggaran sanksi ekonomi, hingga pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz yang selama ini menjadi pusat ketegangan global.
Trump mengatakan pembicaraan dalam 24 jam terakhir berlangsung “sangat baik” dan peluang tercapainya kesepakatan cukup besar. Dalam pidato virtual kepada pendukung Partai Republik di Georgia, ia bahkan menilai perang akan “berakhir dengan cepat”. Namun di saat yang sama, Trump tetap mengeluarkan ancaman keras jika Iran menolak kesepakatan tersebut.
Proposal 14 Poin Mulai Mengemuka
Isi lengkap proposal belum diumumkan secara resmi, tetapi sejumlah media internasional melaporkan beberapa poin utama yang menjadi fokus negosiasi. Di antaranya adalah penghentian program pengayaan uranium Iran selama 12 hingga 15 tahun, inspeksi internasional yang lebih ketat, pencabutan sebagian sanksi AS, serta pemulihan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Selain itu, ada pula pembahasan mengenai kemungkinan pemindahan stok uranium yang telah diperkaya keluar dari wilayah Iran. Namun isu ini disebut menjadi salah satu titik paling sensitif dalam pembicaraan karena Tehran menilai program nuklir mereka merupakan hak kedaulatan negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan proposal AS masih dipelajari dan Iran akan menyampaikan tanggapannya melalui mediator Pakistan setelah proses evaluasi selesai. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa belum ada keputusan final dari pihak Tehran.
Iran dan AS Masih Saling Curiga
Di tengah sinyal diplomasi yang mulai terbuka, pejabat Iran tetap menunjukkan sikap skeptis terhadap Washington. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut proposal Amerika lebih mirip “daftar keinginan” dibanding kesepakatan realistis. Ia menegaskan Iran siap memberikan respons keras apabila tekanan militer kembali meningkat.
Iran juga disebut belum bersedia melepas kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Sejak konflik pecah pada Februari lalu, kawasan itu menjadi salah satu sumber gangguan terbesar terhadap stabilitas energi global.
Sementara itu, Amerika Serikat masih mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Ketegangan sempat meningkat setelah militer AS menonaktifkan kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman yang dituduh melanggar blokade.
Baca Juga
Israel Ikut Menjadi Faktor Penting
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya memiliki koordinasi penuh dengan Trump terkait Iran. Netanyahu menegaskan target utama mereka adalah menghapus seluruh material uranium yang telah diperkaya dan menghentikan kemampuan pengayaan Iran sepenuhnya.
Di saat yang sama, Israel kembali melancarkan serangan ke Beirut dengan target komandan senior Hezbollah. Kelompok bersenjata yang didukung Iran itu masih terlibat bentrokan dengan Israel meskipun sebelumnya sempat ada kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.