AS–Eropa Makin Memanas! Trump Ancam Naikkan Tarif Mobil Uni Eropa Jadi 25 Persen

fin.co.id - 02/05/2026, 20:14 WIB

AS–Eropa Makin Memanas! Trump Ancam Naikkan Tarif Mobil Uni Eropa Jadi 25 Persen

Presiden Trump Sesumbar Tak Butuh Selat Hormuz, Tapi Harga BBM Amerika Meroket

fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat gebrakan di panggung perdagangan global. Pada Jumat (1/5), ia mengumumkan rencana menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25 persen, naik dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pekan depan dan langsung menuai reaksi keras dari berbagai pihak di Eropa.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menuding Uni Eropa tidak mematuhi perjanjian dagang yang telah disepakati dengan Washington.

Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi kepentingan ekonomi Amerika sekaligus mendorong produsen mobil Eropa memindahkan pabrik mereka ke wilayah AS.

“Jika mereka memproduksi mobil dan truk di Amerika Serikat, maka tidak akan dikenakan tarif,” tegas Trump dari Gedung Putih.

Kebijakan ini diperkirakan akan berdampak besar pada industri otomotif global. Pasalnya, Eropa merupakan salah satu eksportir utama kendaraan ke pasar Amerika. Dengan tarif baru sebesar 25 persen, harga mobil impor diprediksi melonjak dan berpotensi menurunkan daya saing produk Eropa di pasar AS.

Namun, pihak Komisi Eropa langsung membantah tudingan Trump. Mereka menyatakan bahwa Uni Eropa tetap mematuhi perjanjian dagang yang berlaku dan siap mengambil langkah balasan jika kebijakan tarif tersebut benar-benar diterapkan.

Sejumlah ekonom bahkan mendesak pemerintah di Jerman dan Brussel untuk segera merespons dengan tarif balasan guna melindungi industri dalam negeri. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang baru antara dua kekuatan ekonomi besar dunia tersebut.

Ketegangan ini juga terjadi di tengah dinamika geopolitik yang memanas, termasuk konflik di Timur Tengah dan isu Selat Hormuz. Selain itu, Trump juga sempat mengancam akan mengurangi jumlah pasukan AS di beberapa negara Eropa seperti Jerman, Italia, dan Spanyol, yang semakin memperkeruh hubungan transatlantik.

Di sisi lain, Uni Eropa tengah mempercepat kerja sama dagang dengan kawasan lain, termasuk melalui perjanjian Mercosur, sebagai upaya meredam dampak kebijakan proteksionis dari AS.

Dengan situasi yang terus berkembang, kebijakan tarif ini berpotensi mengguncang stabilitas perdagangan global. Dunia kini menanti langkah lanjutan dari kedua belah pihak—apakah akan berujung kompromi atau justru memicu eskalasi konflik ekonomi yang lebih luas.

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana FIN.CO.ID