Review Kekalahan Rodtang vs Takeru di Rematch ONE Samurai 1, Apa yang Membuat The Iron Man Tak Agresif?

fin.co.id - 30/04/2026, 06:11 WIB

Review Kekalahan Rodtang vs Takeru di Rematch ONE Samurai 1, Apa yang Membuat The Iron Man Tak Agresif?

Rodtang vs Takeru

fin.co.id - Kekalahan yang dialami Rodtang Jitmuangnon dari Takeru Segawa pada rematch ONE Samurai 1, 29 April 2026, menjadi salah satu hasil paling mengejutkan di dunia kickboxing tahun ini. Petarung berjuluk “The Iron Man” itu tumbang lewat TKO ronde kelima setelah sebelumnya dikenal sebagai sosok yang sulit dihentikan.

Pertarungan ini bukan sekadar duel biasa. Rematch tersebut membawa beban besar karena pada pertemuan pertama, Rodtang mampu mengalahkan Takeru hanya dalam waktu sekitar 80 detik. Namun pada duel kedua, situasi berubah drastis. Takeru tampil jauh lebih siap dan berhasil membalikkan keadaan dengan performa yang lebih disiplin serta agresif.

Banyak penggemar mempertanyakan mengapa Rodtang terlihat berbeda dari biasanya. Ia tetap agresif, tetapi tidak menampilkan aura dominan seperti ketika berada dalam performa terbaiknya. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa “The Iron Man” tampak kehilangan fokus.

Salah satu faktor utama adalah perubahan pendekatan dari Takeru. Pada laga pertama, Takeru terlalu terbuka dan cepat masuk ke area pertarungan jarak dekat, yang justru menjadi kekuatan Rodtang. Di rematch, petarung Jepang itu tampil lebih sabar dan tidak terburu-buru masuk ke pertarungan liar.

Takeru memilih membaca ritme lawan terlebih dahulu. Ia tidak membiarkan Rodtang mengendalikan tempo secara penuh. Strategi counter dan kombinasi pukulan yang lebih rapi membuat Rodtang kesulitan menemukan pola serangan favoritnya.

Momen penting terjadi ketika Takeru menjatuhkan Rodtang dua kali pada ronde kedua. Knockdown tersebut menjadi titik balik besar dalam pertarungan. Biasanya, Rodtang dikenal sebagai petarung yang tidak mudah goyah secara mental. Namun ketika ia mulai terkena pukulan bersih dan kehilangan momentum, ritme pertarungannya terlihat berubah.

Setelah knockdown kedua, Rodtang tampak lebih berhati-hati. Ia tidak lagi menekan tanpa jeda seperti gaya khasnya. Ada indikasi bahwa ia mulai berpikir terlalu banyak saat bertarung, sesuatu yang jarang terlihat dari petarung asal Thailand tersebut.

Di sisi lain, Takeru justru memperoleh dorongan kepercayaan diri. Semakin lama laga berjalan, petarung Jepang itu semakin nyaman bertukar pukulan. Bahkan banyak komunitas kickboxing menilai Takeru berhasil “mengalahkan Rodtang dengan gaya Rodtang” — yakni bertarung agresif dan memenangkan duel tekanan.

Faktor lain yang patut diperhatikan adalah kemungkinan adanya ring rust atau kurangnya ritme pertandingan. Rodtang sempat menjalani periode yang tidak sepenuhnya stabil menjelang duel ini. Dalam beberapa bulan terakhir, namanya dikaitkan dengan isu kontrak dan aktivitas bertanding yang tidak terlalu padat.

Kondisi tersebut bisa memengaruhi timing, respons, dan fokus seorang petarung ketika menghadapi laga berintensitas tinggi. Dalam olahraga striking, sedikit keterlambatan reaksi bisa berdampak besar.

Selain itu, Takeru memasuki laga ini dengan motivasi emosional yang tinggi. Duel ini disebut sebagai pertarungan terakhirnya sebelum pensiun. Ia membawa misi balas dendam sekaligus ingin menutup karier dengan kemenangan besar.

Tekanan psikologis justru tampak lebih berpihak kepada Rodtang. Sebagai pemenang pada pertemuan pertama, ia datang dengan status unggulan. Situasi tersebut terkadang membuat petarung sulit tampil lepas karena harus mempertahankan reputasi.

Rodtang sebenarnya masih menunjukkan daya tahan luar biasa. Ia mampu bertahan hingga ronde kelima meski sudah mengalami knockdown dan tekanan bertubi-tubi. Namun secara keseluruhan, ritme dan ekspresi bertarungnya tidak seintens biasanya.

Analisis paling masuk akal bukan berarti Rodtang tiba-tiba menurun drastis. Justru laga ini memperlihatkan bahwa Takeru datang dengan penyesuaian taktik yang lebih matang. Ia belajar dari kekalahan pertama dan berhasil memanfaatkan celah yang sebelumnya tidak terlihat.

Pada akhirnya, kekalahan ini lebih terasa sebagai kemenangan strategi Takeru dibanding murni penurunan kualitas Rodtang. Tetapi satu hal yang jelas, “The Iron Man” terlihat kehilangan fokus ketika momentum mulai berbalik arah, dan di level elite, perubahan kecil seperti itu bisa menentukan hasil akhir pertarungan. *

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca