PERSAJA Dorong Budaya Literasi Jaksa Lewat Pameran Buku dan Diskusi

fin.co.id - 29/04/2026, 12:27 WIB

PERSAJA Dorong Budaya Literasi Jaksa Lewat Pameran Buku dan Diskusi

PERSAJA dorong jaksa aktif menulis lewat pameran buku dan talkshow, bangun budaya literasi di HUT ke-75.

fin.co.id - Rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Persatuan Jaksa Indonesia (PERSAJA) langsung tancap gas dengan agenda yang bukan sekadar seremonial. Kali ini, sorotan mengarah pada penguatan budaya literasi di lingkungan kejaksaan. Lewat pameran buku bertema “Menulis Hukum, Membaca Zaman” yang digelar di M Bloc Space pada Selasa (28/4/2026), PERSAJA menunjukkan langkah konkret membangun tradisi intelektual di kalangan jaksa.

Acara ini tidak hanya menghadirkan deretan buku karya jaksa, tetapi juga menyuguhkan diskusi hingga pertunjukan seni. Dengan begitu, suasana menjadi lebih hidup dan menarik perhatian publik. Salah satu sesi yang paling menyedot perhatian adalah Talkshow II bertema “Membangun Budaya Menulis Bagi Insan Adhyaksa”.

Dalam sesi tersebut, Ketua Umum PERSAJA Asep Nana Mulyana tampil bersama penulis ternama Tere Liye. Kombinasi ini langsung menciptakan atmosfer diskusi yang segar sekaligus inspiratif. Tidak heran jika banyak peserta antusias mengikuti jalannya acara dari awal hingga akhir.

Asep Nana Mulyana menegaskan bahwa kemampuan menulis menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang jaksa. Ia menilai, kemampuan berbicara saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan keterampilan menuangkan ide ke dalam tulisan.

Menurutnya, gagasan yang hanya disampaikan secara lisan berisiko hilang begitu saja. Sebaliknya, tulisan mampu menjadi jejak pemikiran yang bisa dibaca, dipelajari, bahkan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Dengan kata lain, menulis bukan sekadar keterampilan tambahan, tetapi kebutuhan utama.

Karena itu, PERSAJA tidak tinggal diam. Organisasi ini tengah menyiapkan berbagai program strategis untuk meningkatkan minat baca dan menulis di kalangan jaksa. Program tersebut mencakup kegiatan lintas generasi, pelatihan kepenulisan, hingga pemberian insentif bagi jaksa yang aktif menghasilkan karya.

Langkah ini menunjukkan keseriusan PERSAJA dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Tidak hanya berhenti pada wacana, mereka juga berkomitmen memfasilitasi penerbitan karya para jaksa agar bisa diakses masyarakat luas. Dengan demikian, peran jaksa tidak hanya terlihat di ruang sidang, tetapi juga di dunia intelektual.

Lebih jauh, Asep juga membagikan pengalamannya dalam dunia menulis. Ia menekankan bahwa setiap jenis tulisan memiliki pendekatan berbeda. Buku, artikel, hingga karya ilmiah membutuhkan teknik dan strategi masing-masing. Oleh karena itu, latihan menjadi kunci utama untuk menguasai keterampilan ini.

Menariknya, ia menyoroti pentingnya membuat judul yang kuat. Menurutnya, judul yang singkat justru memiliki daya tarik lebih besar, asalkan mampu memancing rasa ingin tahu pembaca. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa perdebatan soal judul bisa memicu diskusi panjang dalam forum akademik.

Hal ini menegaskan bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata, tetapi juga strategi komunikasi. Judul yang tepat dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk memahami isi tulisan secara keseluruhan.

Di sisi lain, momentum HUT ke-75 PERSAJA dimanfaatkan sebagai titik awal gerakan literasi yang lebih luas. Pameran buku yang digelar tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga simbol perubahan arah menuju budaya intelektual yang lebih kuat.

PERSAJA ingin mendorong para jaksa untuk aktif menuangkan gagasan mereka. Selain itu, organisasi ini juga berupaya menjembatani karya-karya tersebut agar bisa dinikmati publik. Langkah ini sekaligus memperkuat hubungan antara institusi kejaksaan dan masyarakat.

Asep menegaskan bahwa menulis bukan aktivitas eksklusif. Siapa pun bisa melakukannya, kapan saja, selama memiliki kemauan. Pesan ini menjadi dorongan kuat bagi para jaksa yang mungkin masih ragu untuk memulai.

Dengan pendekatan ini, PERSAJA berharap lahir generasi jaksa yang tidak hanya piawai dalam menjalankan tugas hukum, tetapi juga produktif menghasilkan karya intelektual. Ke depan, tulisan-tulisan tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Akhirnya, langkah PERSAJA ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia hukum tidak boleh tertinggal dalam hal literasi. Ketika jaksa aktif menulis, mereka tidak hanya memperkuat kapasitas pribadi, tetapi juga membangun citra institusi yang lebih terbuka, cerdas, dan relevan dengan perkembangan zaman.

AdminFIN
AdminFIN
Penulis

Penulis FIN.CO.ID