Tegang soal Iran, Trump Harap Kunjungan Raja Charles Pulihkan Relasi

fin.co.id - 24/04/2026, 09:52 WIB

Tegang soal Iran, Trump Harap Kunjungan Raja Charles Pulihkan Relasi

Raja Charles, Image: @theroyalfamily / Instagram

fin.co.id - Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Inggris kembali memanas akibat konflik Iran. Namun di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump justru melihat peluang perbaikan lewat jalur tak biasa: kunjungan kerajaan.

Ketegangan Dipicu Konflik Iran

Hubungan Washington dan London mengalami friksi serius dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu pemicunya adalah perbedaan sikap terhadap konflik Iran.

Trump secara terbuka mengkritik pemerintah Inggris yang dipimpin Keir Starmer karena dinilai tidak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer AS. Ia bahkan menyebut pendekatan Inggris terhadap konflik tersebut sebagai “buruk” dan mengecewakan.

Dalam wawancara dengan BBC, Trump juga menegaskan bahwa sebenarnya ia tidak membutuhkan bantuan sekutu, tetapi ingin menguji loyalitas mereka. Pernyataannya cukup tajam:

“Kami tidak membutuhkan mereka, jelas tidak. Tapi mereka seharusnya ada di sana.”

Sementara itu, pihak Inggris tetap bersikukuh untuk tidak terseret ke konflik yang lebih luas di Timur Tengah, menegaskan bahwa perang tersebut bukan bagian dari kepentingan langsung mereka.

Raja Charles Jadi “Jembatan Diplomasi”

Di tengah ketegangan itu, harapan justru diarahkan pada sosok King Charles III. Kunjungan kenegaraan sang raja ke Amerika Serikat dinilai bisa menjadi momen penting untuk meredakan hubungan yang retak.

Trump secara eksplisit menyampaikan optimismenya:

“Ya, tentu saja. Dia luar biasa. Dia pria yang hebat. Jawabannya adalah ya.”

Kunjungan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari dan menjadi kunjungan resmi pertama Raja Charles ke AS sebagai raja. Agenda tersebut mencakup pertemuan dengan Trump serta sejumlah kegiatan simbolis yang menekankan hubungan historis kedua negara.

Para pejabat Inggris juga melihat kunjungan ini sebagai bentuk “soft power” atau diplomasi halus, di mana hubungan personal dan simbolik digunakan untuk meredakan ketegangan politik.

Hubungan di Titik Terendah

Sejumlah laporan menyebut hubungan AS-Inggris saat ini berada pada salah satu titik terendah dalam beberapa dekade terakhir, bahkan dibandingkan dengan krisis besar di masa lalu.

Selain isu Iran, ketegangan juga dipicu oleh kritik Trump terhadap kebijakan energi dan imigrasi Inggris. Ia bahkan menyarankan perubahan kebijakan sebagai syarat pemulihan hubungan bilateral.

Namun di sisi lain, Trump tetap menunjukkan sikap berbeda terhadap monarki Inggris. Ia menyebut Raja Charles sebagai sosok yang “berani” dan “fantastis”, serta menganggap hubungan personal mereka cukup kuat untuk membuka kembali jalur diplomasi.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Kunjungan Raja Charles dipandang sebagai momen penting, tetapi belum tentu menjadi solusi permanen. Banyak pihak melihatnya sebagai langkah awal untuk menurunkan tensi, bukan menyelesaikan akar masalah.

Di satu sisi, hubungan diplomatik modern tidak hanya ditentukan oleh pemimpin politik, tetapi juga oleh simbol dan hubungan historis. Inggris dan Amerika Serikat memiliki “special relationship” yang telah teruji selama puluhan tahun.

Namun di sisi lain, perbedaan kebijakan strategis, terutama terkait konflik global seperti Iran, tetap menjadi tantangan besar yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan kunjungan seremonial.

Penutup

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bagaimana perbedaan kebijakan luar negeri dapat dengan cepat merusak hubungan yang selama ini dianggap kuat. Dalam situasi seperti ini, kehadiran figur simbolik seperti Raja Charles menjadi penting sebagai jembatan komunikasi.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik biasa, tetapi juga upaya memanfaatkan kekuatan hubungan historis dan personal untuk meredakan konflik politik modern. Meski belum tentu menyelesaikan semua perbedaan, langkah ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus keras dan formal, tetapi juga bisa bersifat halus dan simbolis.

Pada akhirnya, apakah hubungan ini benar-benar pulih akan bergantung pada kebijakan nyata kedua negara, bukan hanya pada pertemuan tingkat tinggi.

Referensi

South China Morning Post, The Independent, Reuters

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID