Rupiah Kian Terpuruk Tembus Rp17.300, Airlangga: Bukan Saja di Indonesia

fin.co.id - 24/04/2026, 08:07 WIB

Rupiah Kian Terpuruk Tembus Rp17.300, Airlangga: Bukan Saja di Indonesia

Ilustrasi nilai mata uang rupiah anjlok

fin.co.id - Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah pada 21 April 2026 berada di posisi Rp17.140 per dolar AS. Angka tersebut melemah sekitar 0,87 persen secara point to point dibandingkan posisi pada akhir Maret 2026.

Tekanan terhadap rupiah juga terlihat pada perdagangan Kamis, 23 April 2026, ketika mata uang domestik sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Meski demikian, rupiah akhirnya ditutup di posisi Rp17.286 per dolar AS, turun 0,61 persen atau sekitar 105 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut memberi tekanan terhadap mata uang regional.

Untuk menjaga kestabilan pasar keuangan, Bank Indonesia menegaskan akan terus meningkatkan langkah intervensi di pasar valuta asing. Kebijakan tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah dampak konflik geopolitik yang masih berlangsung.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Destry.

Selain intervensi pasar, BI menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat mencapai US$148,2 miliar, yang dinilai cukup kuat untuk mendukung stabilitas eksternal dan menjaga kepercayaan pasar.

"BI senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.

Menurut Airlangga, fluktuasi mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara di kawasan regional.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga saat ditemui usai konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis 23 April 2026.

Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah erat kaitannya dengan dinamika global yang memengaruhi sentimen pasar keuangan internasional. Meski begitu, pemerintah tidak akan bereaksi berlebihan terhadap perubahan nilai tukar yang bersifat harian.

“Ya kan itu (penyebabnya) lihat gejolak global. Nanti kita monitor saja dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga (stabilitas rupiah),” tutur Airlangga. *

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca