Harga Minyak Dunia Bergejolak, Buntut Ketidakjelasan Negosiasi AS-Iran

fin.co.id - 22/04/2026, 12:00 WIB

Harga Minyak Dunia Bergejolak, Buntut Ketidakjelasan Negosiasi AS-Iran

Krisis Energi, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Harga minyak dunia kembali menunjukkan pergerakan yang tidak stabil di tengah ketidakjelasan arah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah sempat menguat, harga minyak justru berbalik melemah dalam perdagangan awal Asia, mencerminkan kegelisahan pasar terhadap situasi geopolitik yang belum menemukan titik terang.

Pasar Energi Bereaksi Cepat terhadap Ketidakpastian

Fluktuasi harga terjadi hanya dalam hitungan jam. Minyak mentah Brent sempat dibuka lebih tinggi, namun kemudian turun sekitar 0,2 persen ke kisaran 98 dolar per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melemah sekitar 0,3 persen ke level sekitar 89 dolar per barel.

Pergerakan ini menunjukkan satu hal penting: pasar tidak memiliki kepastian arah. Setiap perkembangan kecil dalam negosiasi langsung memicu reaksi besar di pasar energi global.

Seorang analis energi bahkan menyebut kondisi ini sebagai pasar yang “bergerak berdasarkan spekulasi, bukan kepastian,” karena pelaku pasar terus menunggu sinyal konkret dari kedua negara.

Gencatan Senjata Tidak Cukup Menenangkan Pasar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran untuk memberi ruang bagi negosiasi. Namun keputusan tersebut justru belum mampu meredakan volatilitas harga minyak.

Alasannya sederhana: perpanjangan gencatan senjata tidak disertai kejelasan hasil. Tidak ada kepastian apakah Iran akan menyetujui proposal damai, atau apakah konflik akan kembali memanas dalam waktu dekat.

Bahkan, pasar masih mempertanyakan apakah kesepakatan benar-benar akan tercapai, atau hanya sekadar penundaan konflik.

Faktor Selat Hormuz Jadi Kunci

Salah satu faktor utama yang membuat harga minyak sangat sensitif adalah kondisi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia.

Ketegangan di kawasan ini, termasuk ancaman Iran terhadap jalur pelayaran, membuat risiko gangguan pasokan tetap tinggi. Ketika ada potensi penutupan atau gangguan, harga minyak langsung melonjak. Sebaliknya, ketika ada harapan damai, harga bisa turun dengan cepat.

Situasi ini menciptakan pola naik turun yang tajam dalam waktu singkat.

Konflik Berkepanjangan Picu Volatilitas

Sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari, pasar minyak global berada dalam kondisi sangat sensitif. Harga sempat melonjak signifikan akibat kekhawatiran pasokan terganggu, lalu turun kembali saat muncul harapan gencatan senjata.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID