fin.co.id - Krisis energi di Eropa memasuki fase yang semakin genting. Dalam beberapa pekan ke depan, pasokan bahan bakar pesawat atau jet fuel diperkirakan bisa mencapai titik kritis. Peringatan ini datang dari International Energy Agency (IEA), yang menilai bahwa kondisi saat ini berpotensi mengganggu operasional penerbangan secara luas.
Situasi ini tidak berdiri sendiri. Gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama akibat tertutupnya jalur vital Selat Hormuz, telah menciptakan efek domino yang langsung terasa pada industri penerbangan global, khususnya di Eropa.
Ketergantungan Tinggi pada Timur Tengah
Selama bertahun-tahun, Eropa bergantung besar pada impor bahan bakar pesawat dari kawasan Teluk. Data menunjukkan sekitar 75 persen kebutuhan jet fuel Eropa berasal dari wilayah tersebut. Ketika jalur distribusi utama terganggu, dampaknya tidak bisa dihindari.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, memberikan peringatan tegas mengenai kondisi ini. Ia menyatakan bahwa Eropa mungkin hanya memiliki “sekitar enam minggu” cadangan bahan bakar pesawat jika pasokan tidak segera pulih.
Pernyataan ini mempertegas betapa rapuhnya sistem distribusi energi global ketika bergantung pada satu kawasan utama.
Jalur Hormuz dan Efek Geopolitik
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Ketika jalur ini terganggu akibat konflik geopolitik, dampaknya langsung terasa secara global.
Penutupan jalur ini dalam beberapa minggu terakhir telah memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat secara signifikan. Harga jet fuel di Eropa bahkan sempat mencapai rekor tertinggi, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum konflik terjadi.
Kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi maskapai penerbangan. Bahan bakar sendiri menyumbang sekitar 20 hingga 40 persen dari total biaya operasional maskapai. Ketika harga melonjak, beban biaya langsung meningkat, dan pada akhirnya bisa berdampak pada penumpang.
Risiko Pembatalan Penerbangan
IEA memperingatkan bahwa jika Eropa tidak mampu menggantikan setidaknya 50 persen pasokan dari Timur Tengah, maka kelangkaan fisik bisa terjadi di sejumlah bandara.
Baca Juga
Dampaknya bukan sekadar kenaikan harga tiket, tetapi juga potensi pembatalan penerbangan. Dalam skenario terburuk, permintaan perjalanan bisa ditekan karena keterbatasan pasokan bahan bakar.
Sejumlah maskapai mulai mengambil langkah antisipatif. Maskapai Belanda, KLM, misalnya, telah mengumumkan rencana pembatalan sekitar 160 penerbangan di Eropa dalam waktu dekat. Meski jumlah ini masih kecil dibanding total operasional, langkah tersebut menjadi sinyal awal adanya tekanan nyata di industri.