Gak Main-Main! Generasi Muda Tangerang Diminta Jadi Penjaga Persatuan di Dunia Digital, Begini Caranya!

fin.co.id - 17/04/2026, 07:31 WIB

Gak Main-Main! Generasi Muda Tangerang Diminta Jadi Penjaga Persatuan di Dunia Digital, Begini Caranya!

Sekda Tangerang Herman Suwarman ajak pelajar gunakan gawai untuk perkuat kebhinnekaan dan lawan hoaks

fin.co.id - Pernahkah Anda membayangkan betapa ngerinya jika gawai yang kita pegang setiap hari justru menjadi senjata penghancur persatuan? Di era ledakan informasi seperti sekarang, dunia maya seringkali menjadi medan pertempuran hoaks dan kebencian. Namun, kabar baiknya, Pemerintah Kota Tangerang tidak tinggal diam! Anda para pelajar dan pemuda kini mendapatkan "tugas khusus" yang sangat krusial: mengubah ruang digital menjadi benteng pertahanan kebhinnekaan yang kokoh!

Sekda Tangerang: Jadilah Pemersatu, Bukan Pemecah Belah di Media Sosial

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang, Herman Suwarman, baru saja melemparkan tantangan serius bagi generasi milenial dan Gen Z. Saat membuka kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Wasbang) di GOR Cibodas pada Kamis lalu, beliau menegaskan bahwa peran kalian sedang diuji. Hidup di zaman di mana informasi mengalir sederas air hujan, setiap individu harus memutuskan ingin menjadi energi positif atau justru memperkeruh suasana.

Dihadapan ratusan pelajar SMA/SMK/MA se-Kota Tangerang, Sekda Herman mengingatkan bahwa kalian bukan sekadar penonton, melainkan subjek pembangunan. Gawai yang kalian genggam adalah penentu arah masa depan bangsa. Arus budaya asing memang tidak terbendung, namun integritas diri tidak boleh luntur. Inilah saatnya pemuda Tangerang menunjukkan taringnya sebagai generasi yang cerdas dalam menyaring informasi dan bijak dalam bertindak di jagat maya.

Empat Pilar Kebangsaan: Benteng Utama Menghalau Budaya Asing

Keterbukaan informasi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi tantangannya pun luar biasa besar. Kita tidak boleh menutup diri dari kemajuan zaman, namun tetap butuh pembatas yang jelas agar identitas bangsa tidak hilang ditelan zaman. Batasan tersebut adalah empat pilar kebangsaan kita yang sudah sangat final: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Memegang teguh nilai-nilai kebangsaan di era digital bukan berarti ketinggalan zaman. Justru, nilai-nilai inilah yang menjadi pembeda antara pengguna internet yang beretika dan yang tidak. Sekda Herman mengajak seluruh pelajar untuk menjadikan empat pilar tersebut sebagai filter utama saat mengonsumsi konten maupun saat ingin menyebarkan informasi ke publik. Dengan fondasi yang kuat, godaan hoaks dan provokasi tidak akan mudah merasuki pikiran generasi muda kita.

Wawasan Kebangsaan Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata!

Sobat muda, jangan berpikir wawasan kebangsaan itu hanya ada di buku pelajaran PPKN. Herman Suwarman menegaskan bahwa esensi dari wawasan kebangsaan adalah kepedulian. Apa maksudnya? Peduli berarti Anda tidak diam saat melihat perbedaan, Anda aktif mencegah penyebaran berita bohong (hoaks), dan Anda selalu menjaga etika di mana pun berada, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

“Mulailah dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Manfaatkan ruang digital untuk menyatukan, bukan memecah belah,” pesan Sekda Herman. Etika dan integritas adalah mata uang yang sangat berharga di dunia digital saat ini. Generasi yang mampu menghadirkan energi positif akan menjadi magnet bagi kebersamaan yang lebih luas di tengah masyarakat Kota Tangerang yang heterogen. (*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi