fin.co.id - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BKP) Angga Raka Prabowo mengungkap pengalaman pribadi yang menyentuh saat memantau kondisi sosial di lingkungan sekitarnya.
Ia mengaku tersentak setelah menyadari bahwa program pemerintah belum sepenuhnya menjangkau masyarakat yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggalnya, terutama dalam hal pendidikan.
Pengalaman tersebut disampaikan Angga saat menghadiri peluncuran Buku Saku 0% Manfaat dan Kesejahteraan Tahun 2026 di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 8 April 2026.
Dalam kesempatan itu, ia menilai program-program sosial yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi pengingat penting tentang kebutuhan mendesak masyarakat terhadap akses pendidikan dan pemenuhan gizi.
"Sebagai contoh saya punya cerita bahwa program-program Bapak Presiden ini yang menyentuh rakyat, bahkan saya sendiri juga agak tertampar begitu," ujar Angga di hadapan awak media.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan sebuah keluarga pemulung di wilayah Bogor yang telah ia kenal sejak 2017. Selama ini Angga mengenal orang tua dalam keluarga tersebut sebagai sosok yang memiliki semangat nasionalisme tinggi.
Namun di balik itu, ia baru mengetahui kenyataan lain tentang kondisi anak-anak mereka.
"Kita tahu keluarga itu berprofesi sebagai pemulung. Tapi kita tidak pernah tahu bahwa keluarga itu memiliki tiga anak. Anak pertama usia delapan tahun dan yang kedua enam tahun. Keduanya ternyata belum pernah merasakan bangku sekolah sama sekali," ungkap Angga.
Temuan tersebut menurutnya menjadi refleksi penting bagi dirinya sebagai bagian dari pemerintah. Ia menilai kejadian tersebut harus menjadi dorongan untuk memastikan setiap kebijakan dan bantuan pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Angga menyebut kondisi itu akhirnya dapat ditangani setelah adanya intervensi melalui program pendidikan ‘Sekolah Rakyat’. Melalui program tersebut, anak-anak dari keluarga pemulung itu kini dapat mulai mengikuti pendidikan formal.
Baca Juga
Soroti Masalah Gizi Anak
Selain persoalan pendidikan, Angga juga menyoroti kondisi pemenuhan gizi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia mengaku menemukan fakta yang cukup memprihatinkan saat mengamati salah satu sekolah di wilayah tersebut.
Menurutnya, banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa sarapan.
"Sekitar 90 persen anak-anak di sekolah dekat rumah saya ternyata belum tentu sarapan pagi. Hari ini, alhamdulillah mereka sangat bersyukur karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah masuk ke sana," jelas Angga.
Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya serius menekan angka kemiskinan ekstrem hingga mencapai nol persen. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat agar program bantuan benar-benar tepat sasaran.