fin.co.id - Harga minyak dunia kembali bergerak liar pada awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Iran terkait akses di Selat Hormuz.
Pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak sempat melonjak tajam sebelum akhirnya kembali melemah, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di tengah eskalasi konflik geopolitik.
Ancaman Trump Picu Kepanikan Pasar
Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ketegangan ini membuat pelaku pasar khawatir akan gangguan suplai energi global. Dampaknya, harga minyak Brent sempat melonjak di atas 110 dolar per barel sebelum kembali terkoreksi.
Konflik Iran dan Dampaknya ke Energi Global
Situasi semakin rumit karena konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Serangan dan ancaman terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz membuat pengiriman minyak tersendat. Akibatnya, banyak negara mulai mencari sumber energi alternatif untuk menjaga stabilitas pasokan.
Lonjakan harga minyak juga dipicu oleh kekhawatiran bahwa jalur distribusi utama dunia bisa lumpuh dalam waktu lama. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak bahkan mencatat kenaikan signifikan, mencerminkan tekanan besar di pasar energi global.
Harapan Gencatan Senjata Masih Tipis
Di tengah ketegangan, muncul laporan mengenai kemungkinan pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi yang benar-benar memastikan kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat.
Ketidakpastian ini membuat harga minyak bergerak naik turun secara cepat. Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan situasi.