Fenomena LANGKA! Pink Moon 2026 Siap Hiasi Langit Indonesia, Benarkah Bulan Akan Berwarna Merah Muda?

fin.co.id - 27/03/2026, 10:57 WIB

Fenomena LANGKA! Pink Moon 2026 Siap Hiasi Langit Indonesia, Benarkah Bulan Akan Berwarna Merah Muda?

Fenomena Snow Moon

fin.coi.d - Fenomena langit yang paling dinantikan tahun ini, Pink Moon 2026, akan segera menyapa masyarakat dengan pesona bulan purnama yang memukau. Secara astronomis, Bulan akan mencapai fase purnama sempurna pada Kamis, 2 April 2026 pukul 09.11 WIB.

Meski puncak fase terjadi saat Matahari sudah terbit di wilayah Indonesia, masyarakat tetap bisa menikmati keindahan bulan yang tampak hampir bulat sempurna pada malam sebelumnya, yakni Rabu (1 April) hingga malam hari setelahnya.

Fenomena ini diprediksi akan menarik perhatian luas karena bulan akan terlihat sangat terang di tengah langit malam yang gelap, menciptakan panorama yang indah dan menenangkan.

Berdasarkan data astronomi, Pink Moon kali ini merupakan bulan purnama keempat di tahun 2026. Jarak rata-rata bulan dari Bumi saat fenomena ini terjadi mencapai sekitar 393.000 kilometer, jarak standar dalam siklus orbit bulan.

Meskipun bukan fenomena langka seperti gerhana, Pink Moon tetap menjadi momen spesial karena memiliki nilai budaya, sejarah, dan estetika yang tinggi.

Mitos Warna Merah Muda, Ini Penjelasannya

Salah satu hal yang sering menimbulkan kesalahpahaman adalah anggapan bahwa bulan akan benar-benar berwarna merah muda saat Pink Moon terjadi.

Padahal, secara ilmiah hal tersebut tidak benar.

Istilah “Pink Moon” tidak ada kaitannya dengan perubahan warna fisik bulan. Nama ini berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika Utara yang merujuk pada mekarnya bunga Phlox atau Moss Pink yang biasanya bermekaran di awal musim semi.

Dengan kata lain, bulan tetap akan terlihat berwarna putih keperakan atau sedikit kekuningan seperti biasanya.

Fenomena Hamburan Cahaya di Atmosfer

Meski tidak benar-benar berwarna pink, dalam kondisi tertentu bulan memang bisa tampak kemerahan atau jingga, terutama saat berada di dekat horizon.

Hal ini terjadi akibat fenomena hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Partikel debu, polusi, dan molekul udara menyaring cahaya Matahari yang dipantulkan bulan, sehingga menghasilkan efek warna hangat.

Fenomena ini mirip dengan warna kemerahan saat Matahari terbit atau terbenam, yang sering memberikan nuansa dramatis bagi pengamat.

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana FIN.CO.ID