fin.co.id - Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, sulit untuk memprediksi konsekuensi konflik di Timur Tengah. Namun, beberapa pihak telah membandingkan potensi dampaknya dengan pandemi COVID-19.
Menurut Putin, konflik tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada logistik internasional, produksi, dan rantai pasokan, sekaligus memberikan tekanan hebat pada perusahaan hidrokarbon, logam, dan pupuk.
“Konsekuensi konflik di Timur Tengah masih sulit diprediksi secara akurat,” kata Putin kepada para pemimpin bisnis di Moskow, Kamis, 26 Maret 2026.
“Menurut saya, mereka yang terlibat dalam konflik tidak dapat memprediksi apa pun sendiri, tetapi bagi kami itu bahkan lebih sulit,” lanjutnya.
“Namun, sudah ada perkiraan bahwa konsekuensinya dapat dibandingkan dengan epidemi virus corona. Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa hal itu telah secara dramatis memperlambat perkembangan semua wilayah dan benua, tanpa terkecuali,” tambah Putin.
UE Tuduh Rusia Berikan Data Intelijen pada Iran
Sementara itu, Diplomat tertinggi UE, Kaja Kallas menuduh Rusia memberikan dukungan intelijen kepada Iran dalam perang Timur Tengah untuk "membunuh warga Amerika".
Ia pun menyerukan Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan pada Moskow.
“Kita melihat bahwa Rusia membantu Iran dengan intelijen untuk menargetkan warga Amerika, untuk membunuh warga Amerika, dan Rusia juga mendukung Iran sekarang dengan drone sehingga mereka dapat menyerang negara-negara tetangga dan juga pangkalan militer AS,” kata Kallas kepada wartawan pada pertemuan G7 di luar Paris.
“Perang-perang ini sangat terkait. Jika Amerika ingin perang di Timur Tengah berhenti, Iran berhenti menyerang mereka, mereka juga harus menekan Rusia agar mereka tidak dapat membantu mereka dalam hal ini,” tambahnya.