fin.co.id - Eskalasi konflik geopolitik akhirnya memukul telak dunia olahraga. Pemerintah Iran melalui siaran televisi resminya mengumumkan pengunduran diri Tim Nasional Iran dari putaran final Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil sebagai bentuk boikot dan protes keras atas situasi perang yang melibatkan Amerika Serikat.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menegaskan bahwa partisipasi negaranya dalam turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat saat ini menjadi hal yang tidak mungkin. Fokus nasional Iran kini sepenuhnya dialihkan pada stabilitas dalam negeri setelah serangkaian serangan udara yang memicu ketegangan tinggi di kawasan tersebut.
Menanggapi pengunduran diri tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Timnas Iran memang tidak pantas bermain di Piala Dunia 2026 karena berisiko terkait keamanan.
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump menilai bahwa kehadiran skuad "Team Melli" di tanah Amerika memang sudah tidak pantas lagi sejak awal, mengingat situasi keamanan yang sangat berisiko.
"Saya benar-benar tidak percaya bahwa kehadiran mereka di sini adalah hal yang pantas, demi nyawa dan keselamatan mereka sendiri," ujar Trump Jumat 13 Maret 2026 WIB.
Pihaknya tidak bisa menjamin keamanan penuh bagi delegasi Iran jika mereka tetap memaksakan hadir. Meski sebelumnya FIFA sempat mengevaluasi bahwa risiko keamanan di Amerika Serikat tergolong rendah, namun tensi perang yang pecah sejak akhir Februari lalu mengubah segalanya secara drastis.
Mundurnya Iran tentu menyisakan lubang besar di Grup G yang awalnya juga dihuni oleh Belgia, Selandia Baru, dan Mesir. Selain faktor keamanan di negara tuan rumah, para atlet Iran juga sering kali menghadapi tekanan besar saat berlaga di luar negeri, mulai dari aksi protes diaspora hingga ancaman terhadap keluarga mereka di tanah air.
Kini, FIFA berada dalam posisi sulit untuk segera menentukan langkah selanjutnya. Dengan pengunduran diri resmi ini, sejarah mencatat Piala Dunia 2026 sebagai turnamen yang paling terdampak oleh krisis geopolitik modern, di mana sepak bola gagal menjadi jembatan perdamaian di tengah dentuman meriam.