fin.co.id - Ekspor China mencatat lonjakan tajam pada dua bulan pertama tahun ini, meskipun hubungan dagang dengan Amerika Serikat kembali memanas akibat kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Data resmi menunjukkan nilai ekspor negeri itu meningkat lebih dari 20 persen pada periode Januari hingga Februari.
Angka tersebut jauh melampaui prediksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekspor hanya berada di kisaran satu digit. Dengan capaian ini, China berada di jalur untuk kembali mencatat surplus perdagangan tahunan yang sangat besar, bahkan berpotensi melampaui rekor yang telah dicapai pada tahun 2025.
Pemerintah China biasanya menggabungkan data perdagangan Januari dan Februari untuk menghindari distorsi statistik yang disebabkan oleh libur Tahun Baru Imlek. Perayaan tersebut selalu jatuh pada tanggal berbeda setiap tahun sehingga dapat memengaruhi aktivitas produksi dan pengiriman barang.
Permintaan Elektronik dan Produk Manufaktur Dorong Pertumbuhan
Lonjakan ekspor China pada awal tahun ini sebagian besar didorong oleh kuatnya permintaan global terhadap produk elektronik. Selain itu, pengiriman barang manufaktur serta produk pertanian juga mengalami peningkatan yang signifikan.
Permintaan dari berbagai kawasan dunia menunjukkan tren positif. Negara-negara Eropa mencatat kenaikan perdagangan dengan China hingga sekitar 27,8 persen. Sementara itu, ekspor ke negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam kelompok ASEAN meningkat hampir 30 persen.
ASEAN mencakup sejumlah ekonomi penting di kawasan seperti Thailand, Singapura, dan Filipina. Pertumbuhan ekspor ke wilayah ini menunjukkan semakin besarnya peran Asia Tenggara sebagai pasar utama bagi produk China.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana China terus memperluas jangkauan pasar ekspornya di tengah dinamika perdagangan global yang tidak menentu.
Ekspor ke Amerika Serikat Justru Menurun
Berbeda dengan kawasan lain, ekspor China ke Amerika Serikat justru mengalami penurunan. Data menunjukkan pengiriman barang dari China ke pasar Amerika turun lebih dari 10 persen.
Penurunan ini terjadi setelah pemerintahan Donald Trump kembali menerapkan tarif serta berbagai langkah perdagangan lainnya untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara.
Baca Juga
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan defisit perdagangan dengan China. Tarif impor terhadap berbagai produk China menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan dalam upaya tersebut.
Meski demikian, dampak kebijakan tarif tersebut tampaknya belum mampu secara signifikan menahan pertumbuhan total ekspor China secara global.