Tradisi Qunutan, Memaknai Separuh Bulan Ramadan Lewat Filosofi Ketupat dan Doa

fin.co.id - 05/03/2026, 12:54 WIB

Tradisi Qunutan, Memaknai Separuh Bulan Ramadan Lewat Filosofi Ketupat dan Doa

Ilustrasi

fin.co.id -  Memasuki malam ke-15 bulan Ramadhan, ada pemandangan menarik di berbagai masjid dan langgar di pelosok Nusantara, terutama di tanah Jawa. Bukan aroma kue kering Idul Fitri yang tercium, melainkan wangi khas janur kelapa yang direbus.

Masyarakat setempat sedang bersiap merayakan tradisi "Qunutan" atau yang dikenal juga dengan istilah "Kupatan". Sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi penanda bahwa perjalanan spiritual di bulan suci telah mencapai titik tengah.

Lantas, bagaimana sejarah dan makna di balik tradisi yang masih lestari hingga kini tersebut?

Jejak Sejarah Sejak Zaman Kesultanan

Meski tidak ada catatan tunggal mengenai awal mulanya, jejak Qunutan diyakini telah ada sejak masa awal syiar Islam di Nusantara. Mengutip berbagai sumber sejarah, tradisi ini erat kaitannya dengan ekspansi pengaruh Kesultanan Demak pada tahun 1524 ke wilayah barat.

Kala itu, Sunan Gunung Jati membawa tradisi ini ke wilayah Kesultanan Cirebon dan Banten. Pembagian ketupat di pertengahan bulan puasa digunakan sebagai sarana syukur sekaligus media dakwah yang merangkul kearifan lokal.

Filosofi Ketupat dan Kebersamaan

Berbeda dengan Lebaran, ketupat pada momen Qunutan memiliki nuansa syukur yang lebih intim. Warga biasanya memasak ketupat di rumah masing-masing, lalu membawanya ke masjid menjelang waktu Maghrib.

Setelah berbuka puasa dan shalat berjamaah, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama atau tahlilan. Salah satu ciri khasnya adalah pembagian ketupat secara acak. Setiap jemaah akan mendapatkan ketupat hasil masakan tetangganya.

Hal ini bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol solidaritas sosial. Tradisi ini menghapus sekat antarwarga dan mempererat tali silaturahmi melalui cara yang paling sederhana: berbagi makanan.

Makna Spiritual: Penolak Bala dan Lailatul Qadar

Dari sisi religius, penamaan "Qunutan" merujuk pada mulanya pembacaan doa Qunut pada rakaat terakhir shalat Witir saat tarawih, yang dimulai pada malam ke-16.

Disebutkan bahwa doa Qunut mengandung keutamaan dan kebaikan yang besar. Dalam kepercayaan masyarakat, doa ini juga dimaknai sebagai permohonan perlindungan atau penolak bala.

Umat Islam memohon keteguhan hati agar tetap kuat menjalani sisa 15 hari terakhir Ramadhan yang seringkali penuh dengan godaan dan ujian kekhusyukan.

Selain itu, momen Qunutan menjadi "alarm" spiritual. Bacaan surah pendek dalam shalat tarawih biasanya mulai beralih menuju Surah Al-Qadr, sebuah isyarat bagi umat untuk bersiap menyambut datangnya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Rikhi Ferdian Herisetiana
Rikhi Ferdian Herisetiana
Penulis

Reporter FIN.CO.ID untuk daerah Tangerang.