Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Tekan Pasar Global

fin.co.id - 03/03/2026, 08:44 WIB

Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Tekan Pasar Global

Konflik AS-Israel dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 6 persen.Foto:Ilustrasi/Unsplash@Zbynek Burival

fin.co.id - Ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menjadi pusat perhatian pelaku pasar global. Kecemasan terhadap gangguan pasokan minyak mentah dunia memicu lonjakan harga komoditas energi tersebut pada perdagangan Senin. Para investor mengkhawatirkan perang ini dapat menyumbat aliran minyak mentah secara global dan memperburuk laju inflasi yang saat ini sudah berada di level yang mengkhawatirkan.

Harga minyak mentah melonjak lebih dari 6 persen dalam waktu singkat. Kenaikan tajam ini diprediksi akan segera berdampak pada melambungnya harga bahan bakar di tingkat konsumen. Situasi tersebut tidak hanya memukul daya beli rumah tangga, tetapi juga menambah beban operasional bagi sektor bisnis yang bergantung pada bahan bakar dalam skala besar.

Pasar saham Amerika Serikat sempat bereaksi negatif dengan penurunan indeks S&P 500 hingga 1,2 persen pada awal perdagangan. Sektor maskapai penerbangan dan jalur pelayaran menjadi kelompok yang paling terdampak akibat kekhawatiran biaya bahan bakar yang membengkak. Namun, bursa saham menunjukkan ketangguhan dengan menghapus kerugian awal tersebut dan ditutup relatif stabil. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa konflik militer di masa lalu jarang menciptakan penurunan pasar yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, harga gas alam tetap bertahan di level tinggi yang berpotensi menaikkan biaya pemanas bagi penduduk di wilayah Eropa. Hal ini terjadi setelah salah satu pemasok utama gas alam cair menghentikan produksinya akibat situasi perang yang memanas. Sementara itu, harga emas naik 1,2 persen karena investor cenderung mencari aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa konflik ini berbeda dengan perang Irak di masa lalu. Pemerintah berusaha meyakinkan dunia bahwa pertempuran ini tidak akan berlangsung selamanya. Namun, pasar obligasi memberikan sinyal yang berbeda. Imbal hasil obligasi justru merangkak naik karena tekanan inflasi dari sektor energi dapat menghalangi Bank Sentral atau The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Secara historis, indeks saham seringkali mencatat pertumbuhan rata-rata setelah peristiwa risiko geopolitik berlalu. Analis mencatat bahwa pasar cenderung pulih dalam periode satu hingga dua belas bulan setelah konflik pecah. Meskipun demikian, selama harga minyak belum menembus angka 100 per barel, dampak sistemik yang permanen terhadap pasar saham diperkirakan masih bisa diredam. Saat ini, harga minyak acuan Amerika Serikat berada di level 71,23, sementara minyak jenis Brent bertengger di posisi 77,74 per barel.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID