fin.co.id – Sebuah guncangan hebat melanda jantung Republik Islam Iran. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang telah memegang kendali absolut selama hampir empat dekade, dikabarkan tewas dalam serangan udara masif yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2028 malam. Kabar ini pertama kali diembuskan oleh pejabat Israel dan diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump, meski pihak Teheran hingga kini masih membisu seribu bahasa.
Di usia 86 tahun, Khamenei merupakan pilar utama yang membentuk wajah Iran modern. Kematiannya, jika benar terkonfirmasi, bukan sekadar hilangnya seorang pemimpin, melainkan runtuhnya simbol otoritas spiritual dan politik tertinggi yang selama ini tak tergoyahkan.
Tangan Besi dan Gejolak Dalam Negeri
Perjalanan kepemimpinan Khamenei yang dimulai sejak 1989 penuh dengan catatan kontroversial. Belum lama ini, ia menghadapi gelombang protes nasional yang dipicu oleh ambruknya nilai tukar rial terhadap dolar AS. Namun, alih-alih merangkul aspirasi rakyat, Khamenei justru mengerahkan tindakan represif paling berdarah sepanjang sejarah kekuasaannya. Data aktivis mencatat lebih dari 7.000 jiwa melayang akibat tindakan aparat keamanan yang tanpa ampun memberangus demonstran.
"Para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya," tegas Khamenei sebelum serangan Sabtu malam itu terjadi. Ketegasan ini pula yang ia terapkan dalam membangun kekuatan Garda Revolusi Iran menjadi entitas militer dan ekonomi paling dominan di negara tersebut.
Masa Depan yang Abu-abu: Siapa Penggantinya?
Kekosongan kekuasaan di Teheran kini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang saudara atau perebutan takhta di internal pemerintahan. Hingga detik ini, Iran belum memiliki sosok suksesor yang pasti. Secara konstitusi, sebuah dewan ulama bertugas memilih pengganti, namun pengaruh kuat Garda Revolusi diprediksi akan memainkan peran kunci dalam menentukan siapa yang berhak duduk di kursi tertinggi.
Pakar Iran dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Danny Citrinowicz, menilai bahwa kematian Khamenei di tengah situasi perang akan meningkatkan gesekan internal yang sangat tajam. Dunia kini menanti dengan cemas: apakah Iran akan bertransformasi pasca-Khamenei, atau justru tenggelam dalam konflik berdarah yang jauh lebih luas?