fin.co.id - Banjir dan longsor mematikan melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut tanpa henti selama beberapa hari terakhir. Sedikitnya 32 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat terus menyisir reruntuhan rumah dan lumpur tebal yang menutup permukiman warga.
Dua kota yang mengalami dampak paling parah adalah Juiz de Fora dan Ubá. Di Juiz de Fora, sedikitnya 12 rumah tersapu longsor lumpur. Sementara di Ubá, sungai yang melintasi kota meluap dengan cepat, menghanyutkan kendaraan, perabotan, hingga bangunan.
Badan meteorologi menyebutkan bahwa curah hujan yang turun bulan ini sudah mencapai dua kali lipat rata-rata normal Februari. Hujan diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan risiko longsor susulan dan banjir tambahan.
Kesaksian Mencekam dari Tengah Arus
Di tengah situasi kacau, kesaksian warga menggambarkan betapa cepatnya bencana datang. Lucas Gandra, warga Ubá, mengaku menerima peringatan dini saat tengah malam. Dalam hitungan menit, air sudah meluap dan menghancurkan lingkungan sekitar.
“Pada pukul 00.07 air mulai meluap, dan pada 00.20 kerusakan sudah sangat besar. Air naik dengan sangat cepat,” tuturnya kepada BBC News.
Ia juga menggambarkan momen ketika sejumlah warga terjebak di dalam rumah dan menangis meminta tolong. “Saya melihat orang-orang terjebak di rumah mereka menangis meminta bantuan, dan tidak ada yang bisa kami lakukan,” katanya. Ia bahkan mengira akan menyaksikan orang tenggelam di dalam rumah mereka sendiri.
Petugas pemadam kebakaran melaporkan lebih dari 200 orang berhasil diselamatkan. Namun tragisnya, beberapa korban yang meninggal dunia disebut merupakan warga yang berusaha menolong orang lain.
Carolina Magalhães, seorang dokter gigi di Ubá, menggambarkan kejadian itu sebagai sesuatu yang “mengerikan”. Ia melihat berbagai benda terseret arus: mulai dari sampah, freezer, kursi, sepeda motor, tabung gas, hingga van dan truk besar.
Ketika air mulai surut, warga kembali ke rumah masing-masing hanya untuk mendapati kehancuran total. Jalanan dipenuhi lumpur tebal, bangunan ambruk, dan perabotan hancur berserakan.
“Ubá tidak lagi bisa dikenali. Semuanya penuh lumpur, kehancurannya total,” kata Marcela Barbosa, seorang dokter yang kembali ke kotanya setelah banjir mereda. Meski demikian, ia menekankan bahwa solidaritas warga terlihat kuat. Banyak orang turun ke jalan dengan pakaian berlumpur untuk membantu membersihkan dan menolong sesama.
Baca Juga
Kota Berulang Kali Diterjang Bencana
Ubá sebelumnya pernah dilanda banjir pada 2019 dan 2020. Namun menurut warga, skala kerusakan kali ini jauh lebih besar. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat mempercepat luapan sungai dan memperbesar risiko longsor di wilayah berbukit.
Fenomena curah hujan ekstrem yang melebihi rata-rata bulanan menunjukkan betapa rentannya kawasan tersebut terhadap perubahan pola cuaca. Ketika tanah sudah jenuh air, struktur lereng menjadi tidak stabil, sehingga longsor mudah terjadi dan menghancurkan permukiman di sekitarnya.