Ketidakpastian Tarif AS Bayangi Ekonomi Asia, Pelaku Usaha Putar Haluan

fin.co.id - 26/02/2026, 09:40 WIB

Ketidakpastian Tarif AS Bayangi Ekonomi Asia, Pelaku Usaha Putar Haluan

Donald Trump, Image: Ajale / Pixabay

fin.co.id - Gelombang kebijakan tarif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menciptakan suasana gamang di kalangan pelaku usaha Asia. Putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian dasar hukum tarif sebelumnya sempat memunculkan harapan akan stabilitas. Namun, langkah cepat Gedung Putih dengan menerbitkan kebijakan tarif global baru justru memperpanjang ketidakpastian. Bagi eksportir, produsen, hingga perusahaan logistik, perubahan aturan yang begitu cepat membuat perencanaan bisnis terasa seperti bergerak di atas pasir yang terus bergeser.

Dunia Usaha Terjebak dalam Ketidakjelasan

Banyak perusahaan Asia sebenarnya tidak sempat merayakan putusan hukum tersebut. Alih-alih melihat peluang, mereka justru dihadapkan pada pertanyaan baru tentang bagaimana aturan tarif akan diterapkan ke depan. Push Sharma, pendiri merek kesehatan asal Singapura, menggambarkan situasi ini dengan nada frustrasi. Ia telah menyiapkan ekspansi ke pasar Amerika Serikat selama bertahun-tahun, mulai dari pendaftaran merek hingga negosiasi distribusi. Namun rencana itu terpaksa ditunda. “Tidak ada yang menyukai ketidakpastian,” ujarnya, menegaskan bahwa perubahan mendadak membuat semua perhitungan biaya menjadi tidak relevan.

Kondisi serupa dirasakan oleh pelaku industri garmen di Thailand. Tomi Mäkelä dari Lanna Clothing mengakui bahwa kliennya memilih menegosiasikan ulang kontrak atau bahkan membatalkan pesanan sebelum pengiriman dilakukan. Kenaikan biaya akibat tarif tidak bisa sepenuhnya ditanggung produsen. “Saya tidak bisa menanggung biaya ini selamanya,” katanya, sambil mengisyaratkan bahwa harga produk pada akhirnya harus dinaikkan.

Dalam dunia perdagangan internasional, kepastian biaya menjadi fondasi utama dalam menentukan harga jual dan margin keuntungan. Ketika tarif dapat berubah dalam hitungan hari, perusahaan kehilangan pijakan untuk menyusun strategi jangka menengah.

Diversifikasi sebagai Jalan Bertahan

Menghadapi situasi tersebut, banyak perusahaan memilih untuk tidak menunggu kejelasan dari Washington. Mereka mulai mengalihkan fokus ke pasar lain yang dianggap lebih stabil. Perusahaan-perusahaan Singapura memperluas penetrasi ke Malaysia dan Timur Tengah. Produsen Thailand memperkuat ekspor ke Kanada, Australia, dan Eropa.

Langkah ini bukan sekadar reaksi jangka pendek, melainkan perubahan pola pikir. Lynsey Lim, pendiri merek perawatan kulit di Singapura, menilai bahwa isu terbesar bukan hanya tarif itu sendiri, tetapi ketidakpastian yang mengikutinya. Perusahaan kini lebih menekankan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta penguatan pasar regional.

Kok Ping Soon dari Singapore Business Federation menyebut bahwa dunia usaha sebenarnya mampu beradaptasi dengan kenaikan biaya yang jelas. Namun ketika kebijakan terus berubah, perusahaan cenderung menahan investasi besar dan menunda ekspansi. Modal menjadi lebih berhati-hati, dan keputusan strategis dipertimbangkan dengan kalkulasi risiko yang lebih ketat.

China Tetap Menjadi Faktor Penentu

Di tengah dinamika tersebut, China tetap memainkan peran sentral dalam rantai pasok Asia. Banyak produk akhir atau komponen penting masih bergantung pada kapasitas produksi skala besar yang dimiliki negara tersebut. Bagi sejumlah perusahaan, memindahkan produksi sepenuhnya dari China bukanlah pilihan realistis dalam waktu singkat.

Sharma mengakui bahwa produknya masih diproduksi di China dan tetap terkena tarif. Sementara itu, produsen di Asia Tenggara menghadapi dilema lain. Jika tarif terhadap China berkurang atau berubah, daya saing mereka bisa tertekan karena skala produksi dan efisiensi biaya China sulit ditandingi.

Situasi ini menciptakan paradoks. Kebijakan tarif yang semula dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada China justru berpotensi memperkuat posisinya, terutama jika ketidakpastian membuat perusahaan enggan melakukan relokasi besar-besaran.

Efek Berantai pada Logistik dan Investasi

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID