fin.co.id - Hujan deras yang mengguyur negara bagian Minas Gerais, Brasil, pada Senin malam memicu banjir besar dan serangkaian longsor yang menewaskan sedikitnya 25 orang. Bencana tersebut terjadi secara tiba-tiba, menghantam kawasan permukiman dan menyebabkan rumah-rumah runtuh dalam hitungan jam.
Sebagian besar korban dilaporkan berasal dari kota Juiz de Fora, di mana 18 orang kehilangan nyawa. Sementara itu, tujuh korban lainnya ditemukan di kota Ubá. Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, dengan puluhan warga dilaporkan hilang setelah bangunan tempat tinggal mereka ambruk tertimbun tanah dan puing.
Rekaman video yang beredar menunjukkan derasnya arus air berlumpur menyeret kendaraan, perabotan, bahkan meruntuhkan struktur bangunan. Di beberapa titik, air mengalir deras seperti sungai baru yang membelah kawasan kota.
Operasi Penyelamatan Berpacu dengan Waktu
Tim penyelamat bersama warga setempat bekerja tanpa henti di tengah lumpur tebal dan hujan yang belum sepenuhnya reda. Alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan puing bangunan, sementara relawan menggunakan sekop dan tangan kosong untuk mencari korban yang mungkin masih tertimbun.
Seorang ayah bernama Valtencir Coutinho de Miranda memohon bantuan saat mencari putrinya yang berusia enam tahun dan masih dinyatakan hilang. Sambil memegang sekop di tengah reruntuhan, ia berkata kepada TV Globo, “Kami di sini untuk menemukannya, dengan Tuhan memberi kami kekuatan dan menguatkan hati kami, agar kami dapat menemukannya dalam keadaan hidup.” Pernyataan tersebut menggambarkan kepedihan sekaligus harapan yang masih tersisa di antara keluarga korban.
Seorang warga lain yang berhasil menyelamatkan seorang anak berusia empat tahun dan tiga orang dewasa dari area longsor mengungkapkan bahwa dalam situasi seperti itu, tidak ada waktu untuk memilih siapa yang akan ditolong. “Dalam momen itu Anda tidak memilih siapa yang dibantu, Anda hanya melakukan yang terbaik,” ujarnya dengan suara bergetar.
Status Darurat dan Duka Mendalam
Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan warga yang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah pusat menetapkan status “keadaan darurat bencana” di Juiz de Fora dan mengerahkan dukungan kemanusiaan serta bantuan rekonstruksi.
Dalam pernyataannya di media sosial, Lula menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak dengan “kecepatan dan kekuatan yang dibutuhkan saat ini.” Fokus utama diarahkan pada penyediaan tempat penampungan sementara, distribusi makanan, air bersih, pakaian, dan perlengkapan kebersihan bagi para pengungsi.
Sekitar 440 orang dilaporkan kehilangan tempat tinggal atau terpaksa mengungsi hanya di Juiz de Fora. Pemerintah kota membuka lokasi penampungan darurat dan mengimbau masyarakat untuk menyumbangkan kebutuhan pokok.
Baca Juga
Wali Kota Juiz de Fora, Margarida Salomão, menyebut tragedi ini sebagai momen paling menyedihkan selama lima tahun masa kepemimpinannya. Ia menetapkan tiga hari berkabung resmi untuk mengenang para korban. Anak-anak termasuk di antara mereka yang meninggal dunia, meskipun identitas lengkap korban belum diumumkan secara resmi.
Rekor Curah Hujan dan Ancaman Musiman
Pejabat setempat menyatakan bahwa Februari tahun ini menjadi bulan terbasah dalam sejarah Juiz de Fora. Curah hujan yang tercatat telah melebihi dua kali lipat dari rata-rata bulanan yang biasanya terjadi. Intensitas hujan ekstrem tersebut memperburuk kondisi tanah di wilayah perbukitan, termasuk di kawasan Morro do Cristo, yang mengalami erosi parah akibat aliran air deras.