fin.co.id - Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa sejumlah negara yang tergabung dalam Board of Peace telah menyumbangkan lebih dari 7 miliar dolar AS, atau sekitar 112 triliun rupiah, untuk paket bantuan rekonstruksi di Gaza. Pengumuman ini dilakukan pada pertemuan perdana organisasi yang dibentuk bulan lalu tersebut, yang sebagian sekutu Barat AS menolak untuk bergabung karena khawatir badan ini dapat menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Latar Belakang Konflik dan Kerusakan Gaza
Konflik terbaru antara Israel dan Hamas dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menahan 251 sandera. Israel merespons dengan kampanye militer besar-besaran di Gaza, menewaskan lebih dari 72.000 orang menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas.
Infrastruktur Gaza hancur total, dan PBB memperkirakan biaya kerusakan mencapai 70 miliar dolar AS, atau sekitar 1.120 triliun rupiah. Kondisi ekonomi di wilayah ini juga mengalami kehancuran signifikan, memperburuk kebutuhan mendesak untuk rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan.
Kontribusi Negara dan Organisasi Internasional
Dalam pengumumannya, Trump menyebutkan bahwa negara-negara seperti Kazakhstan, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uzbekistan, dan Kuwait telah berkontribusi lebih dari 7 miliar dolar AS (112 triliun rupiah) untuk paket bantuan. Selain itu, PBB akan memberikan 2 miliar dolar AS (32 triliun rupiah) untuk bantuan kemanusiaan, sementara FIFA akan menggalang 75 juta dolar AS (1,2 triliun rupiah) untuk proyek terkait sepak bola di Gaza.
Meskipun kontribusi besar ini menjanjikan, tantangan tetap ada. Disarmament Hamas dan pembentukan kekuatan polisi transisi Palestina yang baru menjadi kunci agar rekonstruksi dapat berlangsung aman. Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi untuk Gaza, menyatakan bahwa proses rekrutmen polisi baru telah dimulai, dengan 2.000 pelamar hanya dalam beberapa jam pertama. Polisi baru ini harus independen dari kepolisian Hamas dan memerlukan proses vetting yang ketat.
Tantangan Disarmament dan Keamanan
Sementara Trump optimistis bahwa Hamas akan melakukan disarmament, bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya. Hamas tampak memperluas kendali atas Gaza, sementara Israel menegaskan tidak akan ada rekonstruksi sebelum proses demilitarisasi berlangsung.
Rencana AS juga mencakup kerja sama dengan Israel, Mesir, dan kekuatan polisi Palestina baru, yang dibantu oleh International Stabilisation Force (ISF) untuk menjaga keamanan perbatasan dan memastikan pemutusan kekuatan kelompok bersenjata non-negara, termasuk Hamas. Namun, kemampuan kekuatan baru ini untuk menegakkan disarmament masih dipertanyakan.
Pendekatan Unik Trump dan Dampaknya
Pertemuan Washington mencerminkan pendekatan khas Trump terhadap perdamaian Israel-Palestina, yang kerap menekankan peran investor dan pembangunan ekonomi dalam mencari solusi. Meski mendapat kritik dari beberapa pihak, termasuk Israel, Trump menekankan pentingnya “pemikiran baru” untuk mengakhiri konflik dan menstabilkan wilayah.
Nickolay Mladenov memperingatkan bahwa tanpa kemajuan cepat, Gaza akan tetap terpecah menjadi dua wilayah, satu di bawah kontrol Israel dan satu di bawah Hamas, yang akan mempersulit terciptanya negara Palestina merdeka dan aman.