Peneliti Stanford Kembangkan Vaksin Universal, Bisa Cegah Flu, Pilek hingga COVID

fin.co.id - 20/02/2026, 10:28 WIB

Peneliti Stanford Kembangkan Vaksin Universal, Bisa Cegah Flu, Pilek hingga COVID

Flu dan Batuk, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Tim peneliti dari Stanford University mengembangkan konsep vaksin universal berbentuk semprotan hidung yang diklaim berpotensi melindungi tubuh dari berbagai infeksi saluran pernapasan, mulai dari flu, pilek, hingga COVID-19. Temuan ini masih berada pada tahap uji hewan dan belum memasuki uji klinis pada manusia.

Berbeda dengan vaksin konvensional yang dirancang untuk melawan satu patogen spesifik, pendekatan baru ini bertujuan membangun kesiapsiagaan sistem imun secara lebih luas. Selama lebih dari dua abad, sejak era pelopor vaksin modern seperti Edward Jenner, imunisasi bekerja dengan melatih tubuh mengenali satu jenis virus atau bakteri tertentu. Vaksin campak melindungi dari campak, vaksin cacar air melindungi dari cacar air, dan seterusnya.

Pendekatan yang dikembangkan tim Stanford disebut sebagai “perubahan radikal” dari prinsip tersebut.

Cara Kerja Vaksin Semprot Hidung

Vaksin ini diberikan melalui semprotan hidung dan dirancang untuk menempatkan sel darah putih di paru-paru—khususnya makrofag—dalam kondisi siaga tinggi. Dalam kondisi ini, sel-sel imun disebut berada pada posisi “amber alert”, artinya siap merespons berbagai ancaman infeksi yang masuk melalui saluran pernapasan.

Dalam percobaan pada hewan, efek kesiapsiagaan ini berlangsung sekitar tiga bulan. Hasilnya menunjukkan penurunan jumlah virus yang berhasil menembus paru-paru hingga 100 sampai 1.000 kali lipat dibandingkan kondisi tanpa vaksin.

Profesor Bali Pulendran dari Stanford menjelaskan bahwa vaksin ini memicu respons imun yang jauh lebih luas. Ia menyatakan bahwa vaksin tersebut tidak hanya melindungi terhadap virus flu atau COVID-19, tetapi juga terhadap berbagai virus lain yang diuji, serta beberapa jenis bakteri.

Selain virus, penelitian juga menunjukkan perlindungan terhadap dua spesies bakteri yang dikenal menyebabkan infeksi paru serius, yakni Staphylococcus aureus dan Acinetobacter baumannii.

Potensi Tambahan dan Respons Ahli

Menariknya, pendekatan ini juga tampak mengurangi respons imun terhadap alergen tungau debu rumah yang sering menjadi pemicu asma alergi. Hal ini membuka kemungkinan manfaat tambahan di luar pencegahan infeksi.

Profesor Daniela Ferreira dari University of Oxford yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut menyebut studi ini sebagai “sangat menarik”. Ia menilai pendekatan tersebut berpotensi mengubah cara perlindungan terhadap batuk, pilek, dan infeksi pernapasan lain, jika hasilnya terbukti efektif pada manusia.

Namun, para ahli juga menekankan bahwa penelitian masih berada pada tahap awal. Sistem imun manusia jauh lebih kompleks dibandingkan hewan laboratorium. Selain itu, imunitas manusia telah terbentuk oleh paparan infeksi selama bertahun-tahun, yang dapat memengaruhi respons terhadap vaksin jenis baru ini.

Tantangan dan Tahap Selanjutnya

Salah satu pertanyaan besar adalah apakah efek “siaga tinggi” ini aman jika diterapkan pada manusia. Ada kekhawatiran bahwa meningkatkan kewaspadaan sistem imun dapat memicu reaksi berlebihan atau efek samping yang tidak diinginkan.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID