fin.co.id - Mengatur jam biologis selama bulan suci membutuhkan strategi khusus. Melewatkan waktu istirahat yang berkualitas bukan hanya merusak konsentrasi, tetapi juga memicu gangguan metabolisme.
Jika kamu masih menerapkan pola tidur yang sembarangan, bersiaplah menghadapi risiko "lemas permanen" selama sebulan penuh. Lantas, kapan sebenarnya waktu tidur terbaik agar tubuh tetap prima meski harus bangun dini hari?
1. Tidur Lebih Awal Setelah Tarawih
Jangan habiskan waktu untuk berselancar di media sosial atau menonton maraton film setelah melaksanakan salat Tarawih. Segeralah menuju tempat tidur maksimal pukul 21.30 atau 22.00. Dengan cara ini, kamu bisa mendapatkan durasi tidur sekitar 5 jam sebelum masuk waktu sahur. Tidur di awal waktu membantu tubuh masuk ke fase Deep Sleep yang berfungsi untuk pemulihan sel-sel tubuh.
2. Power Nap di Siang Hari
Kunci sukses para profesional tetap bugar saat puasa adalah memanfaatkan power nap. Luangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit di sela jam istirahat kantor. Tidur singkat ini sangat ampuh untuk menyegarkan otak tanpa membuat kamu merasa pening saat bangun (sleep inertia). Pastikan kamu tidak tidur lebih dari 30 menit agar tidak mengganggu siklus tidur malam kamu nantinya.
3. Tidur Setelah Sahur dan Subuh (Opsi Terakhir)
Meskipun banyak pakar kesehatan menyarankan untuk tetap bangun setelah subuh agar tubuh lebih aktif, namun bagi kamu yang memiliki utang tidur besar, menambah durasi 1-2 jam setelah subuh bisa menjadi pilihan. Namun, pastikan kamu memberikan jeda minimal 30 menit setelah makan sahur sebelum merebahkan diri guna menghindari risiko asam lambung naik (GERD).
Mengatur waktu tidur selama Ramadan memang menantang, tetapi bukan hal yang mustahil. Pilihlah skema yang paling sesuai dengan aktivitas harian kamu, apakah itu tidur lebih awal atau memanfaatkan power nap. Konsistensi adalah kunci utama agar jam biologis tubuh tidak mengalami guncangan hebat.