fin.co.id -Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia sudah resmi menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah pada hari ini, Selasa, 17 Februari 2026. Meski pemerintah baru akan menggelar Sidang Isbat sore nanti, ribuan jemaah dari berbagai tarekat dan pondok pesantren telah lebih dulu melaksanakan salat tarawih pada Senin malam kemarin.
Di Padang, Sumatera Barat, jemaah Tarekat Naqsyabandiyah mengawali puasa berdasarkan metode hisab, rukyat, dan dalil kias tradisional. Pusat peribadatan mereka di Surau Baru dan Musala Baitul Ma'mur, Kecamatan Pauh, terpantau sudah ramai sejak semalam. Namun, kelompok ini menyebut ada kemungkinan cabang lain seperti Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah baru akan menyusul pada Rabu mendatang.
Bergeser ke ujung barat Indonesia, ribuan pengikut Tarekat Syattariyah di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, juga memulainya hari ini. Keputusan tersebut diambil setelah para ulama melakukan musyawarah di Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur.
Cucu Habib Muda Seunagan, Abu Said Kamaruddin, menjelaskan bahwa mereka memegang teguh metode "Hisab Hitungan Lima". Tradisi ini tidak hanya diikuti warga Nagan Raya, tapi juga meluas ke wilayah Gayo Lues, Aceh Tengah, hingga Pidie. "Berdasarkan hitungan tersebut, Ramadan tahun ini akan berlangsung genap selama 30 hari," ujar Abu Said.
Fenomena serupa terjadi di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Bondowoso. Jemaah serta alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Mahfilud Duror di wilayah Maesan juga terpantau sudah mulai berpuasa. Salah satu santri, Ustaz Hilmi, mengonfirmasi bahwa keluarga dan rekan-rekannya di Desa Suger Kidul telah melaksanakan tarawih pertama pada Senin malam.
Uniknya, Ponpes Mahfilud Duror memiliki sistem sendiri yang disebut Sistem Khumasi. Metode ini menentukan awal Ramadan berdasarkan selisih lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya, tanpa bergantung pada rukyatul hilal maupun hisab modern yang lazim dipakai pemerintah.
Walaupun mengawali bulan suci lebih awal dari prediksi pemerintah, aktivitas ibadah di ketiga provinsi tersebut berlangsung sangat kondusif. Keberagaman metode ini justru menjadi warna tersendiri dalam potret toleransi beragama dan pelestarian tradisi lokal di tanah air.