fin.co.id -Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026. Bersamaan dengan itu, tim perukyat di seluruh Indonesia melakukan observasi lapangan untuk mencari keberadaan hilal. Namun, penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah ini bukan sekadar aktivitas melihat langit, melainkan sebuah proses sains yang sangat presisi.
Melansir data resmi dari BMKG melalui akun Instagram @infobmkg, terdapat lima fakta krusial yang menentukan keberhasilan pengamatan hilal. Berikut adalah rangkumannya untuk Anda:
1. Hilal Berbeda dengan Bulan Sabit Biasa
Banyak orang keliru menganggap semua bulan sabit adalah hilal. Secara ilmiah, hilal merupakan bulan sabit pertama yang muncul tepat setelah fase konjungsi atau ijtimak. Artinya, tidak semua penampakan bulan sabit di langit bisa dikategorikan sebagai penanda pergantian bulan baru dalam Islam.
2. Waktu Tampil yang Sangat Singkat
Salah satu tantangan terbesar para perukyat adalah durasi kemunculan hilal yang sangat terbatas. Hilal hanya menampakkan diri selama beberapa menit tepat setelah matahari terbenam. Jika pengamat melewatkan momentum emas yang super singkat ini, maka hilal akan tenggelam di bawah ufuk dan tidak lagi terlihat.
3. Faktor Cuaca Menjadi Kunci Utama
BMKG menekankan bahwa kondisi cuaca memiliki peran yang sangat krusial. Kehadiran awan yang sedikit saja di ufuk barat dapat menutup pandangan dan menyebabkan hilal gagal teramati. Oleh karena itu, keterlibatan BMKG sangat penting untuk memetakan kondisi meteorologi di titik-titik pengamatan guna mendukung akurasi hasil.
4. Standar Ilmiah Kriteria MABIMS
Pengamatan hilal di Indonesia tidak hanya berdasarkan penglihatan mata telanjang, tetapi harus memenuhi kriteria ilmiah yang disepakati oleh negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Parameter penting yang menjadi acuan adalah tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Baca Juga
5. Dukungan Teknologi Kamera Canggih
Seiring perkembangan zaman, pengamatan hilal kini bertransformasi menjadi observasi modern. Para ahli menggunakan teleskop terkomputerisasi dan kamera digital khusus untuk menangkap citra hilal. Teknologi ini memastikan hasil pengamatan jauh lebih presisi dibandingkan metode konvensional.
Prediksi Awal Ramadan 2026
Berdasarkan data hisab untuk tanggal 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia saat ini dilaporkan masih berada di bawah ufuk (minus). Hal ini mengindikasikan bahwa hilal belum memenuhi kriteria MABIMS pada sore ini.
Kemungkinan besar, posisi hilal baru akan mencapai ketinggian signifikan antara 7,62 derajat hingga 10,03 derajat pada tanggal 18 Februari 2026 mendatang. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui Sidang Isbat yang akan diumumkan oleh Menteri Agama malam ini.