fin.co.id – Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan berbagai simbol keberuntungan, mulai dari dekorasi serba merah hingga tradisi makan bersama. Di antara deretan hidangan khas, Kue Keranjang atau Nian Gao menjadi primadona yang tak pernah absen. Namun, tahukah Anda mengapa kue berbahan dasar tepung ketan ini begitu sakral bagi masyarakat Tionghoa?
Secara harfiah, Nian Gao berarti "kue tahun". Menariknya, pelafalan kata tersebut dalam bahasa Mandarin terdengar serupa dengan kalimat yang bermakna "tahun yang lebih sejahtera". Inilah alasan utama mengapa kudapan ini menjadi simbol keberuntungan dan harapan akan peningkatan taraf hidup setiap tahunnya.
Ziying Zhou, seorang warga Tiongkok yang tinggal di Dubai, mengenang bagaimana neneknya dulu membuat kue ini secara tradisional. Di kampung halamannya, Shandong, masyarakat menggunakan tungku raksasa berbahan bakar kayu untuk mengukus kue keranjang dalam jumlah besar.
"Tidak ada yang bisa menandingi rasa kue keranjang yang baru matang, disajikan dengan cocolan gula merah cair yang sederhana tapi nikmat," kenang Zhou.
Simbol Keharmonisan Keluarga
Selain bermakna kemakmuran, bentuk kue keranjang yang bulat dan teksturnya yang lengket menyimpan filosofi mendalam. Bentuk bulat melambangkan persatuan tanpa putus, sementara tekstur lengket merepresentasikan ikatan keluarga yang kuat dan harmonis.
Di Indonesia, kita mengenalnya dengan sebutan Kue Keranjang atau Dodol China. Sementara di Filipina, masyarakat menyebutnya Tikoy. Meski penyebutannya berbeda, bahan dasarnya tetap sama, yakni tepung beras ketan yang memberikan tekstur kenyal mirip moci.
Tips Mengolah Kue Keranjang
Banyak keluarga memiliki cara unik untuk menikmati sajian ini. Jika sudah mulai mengeras setelah beberapa hari, Anda bisa memotongnya menjadi persegi panjang tipis, mencelupkannya ke dalam kocokan telur, lalu menggorengnya hingga garing di luar namun tetap lembut di dalam.
Tradisi ini tetap lestari meski melintasi perbatasan negara. Bagi diaspora Tionghoa, aroma kue keranjang yang dikukus selalu menjadi "mesin waktu" yang membawa mereka kembali ke kehangatan dapur nenek di kampung halaman.