Hilal Masih di Bawah Ufuk, Ramadhan 2026 Berpotensi Jatuh pada 19 Februari?

fin.co.id - 12/02/2026, 07:53 WIB

Hilal Masih di Bawah Ufuk, Ramadhan 2026 Berpotensi Jatuh pada 19 Februari?

Kemenag siapkan 96 titik pantau hilal untuk tentukan 1 Ramadhan 1447 H.Foto:Ilustrasi/Unsplash@Andy Holmes

fin.co.idKementerian Agama (Kemenag) RI menjadwalkan pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026. Pemerintah mengerahkan tim di 96 lokasi strategis di seluruh Indonesia guna memastikan jatuhnya hari pertama bulan suci umat Islam tersebut.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyatakan bahwa sidang isbat menjadi forum krusial yang mengedepankan aspek keilmuan dan kebersamaan. Pemerintah berupaya menetapkan awal puasa secara transparan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari ulama hingga pakar astronomi.

Data Astronomis: Hilal Belum Terlihat

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak atau konjungsi menjelang Ramadhan 1447 H akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Namun, posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia terpantau masih berada di bawah ufuk.

Data teknis menunjukkan ketinggian hilal berkisar antara minus 2 derajat 24 menit hingga minus 0 derajat 58 menit. Dengan sudut elongasi yang hanya mencapai 0 derajat 56 menit hingga 1 derajat 53 menit, posisi ini belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS. Sebagai informasi, kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat agar bulan baru bisa teramati.

Potensi Istikmal dan Prediksi 19 Februari

Analisis serupa muncul dari Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh. Tim Falakiyah Aceh memperkirakan 1 Ramadhan 1447 Hijriah baru akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi ini berdasar pada posisi hilal yang dipastikan tidak mungkin terlihat pada tanggal 17 Februari karena berada di posisi minus.

Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan bahwa bulan justru terbenam lebih dahulu daripada matahari. Kondisi ini menuntut bulan Syakban untuk digenapkan menjadi 30 hari atau melalui proses istikmal. "Karena posisi minus, hilal tidak mungkin terlihat di seluruh Indonesia. Maka awal Ramadhan kemungkinan besar jatuh pada 19 Februari," ungkapnya.

Perbedaan Jadwal dengan Muhammadiyah

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memiliki ketetapan lebih awal melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026.

Perbedaan ini terjadi karena Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dengan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Meski terdapat potensi perbedaan tanggal mulai berpuasa, Kemenag menghimbau masyarakat untuk tetap menunggu hasil resmi Sidang Isbat yang akan diumumkan secara langsung pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Masyarakat diharapkan menyiapkan fisik dan mental menjelang bulan suci, sembari memantau perkembangan resmi dari pemerintah pusat agar ibadah berjalan optimal dan selaras dalam kebersamaan.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID