fin.co.id - Sorotan terhadap belanja transfer Manchester City kembali menguat setelah Pep Guardiola melontarkan pernyataan bernada satire mengenai posisi klubnya dalam daftar pengeluaran bersih Liga Inggris. Pelatih asal Spanyol itu menyebut Manchester City hanya berada di peringkat ketujuh dalam urusan net spend selama lima tahun terakhir, sebuah fakta yang menurutnya kerap diabaikan publik.
Guardiola menyampaikan pernyataan tersebut dengan gaya khasnya, setengah bercanda namun sarat pesan. Ia mengaku “sedikit sedih dan kesal” karena City tidak menjadi klub dengan pengeluaran bersih terbesar di Liga Inggris. Pernyataan ini muncul di tengah narasi lama yang kerap melekat pada City sebagai klub superkaya yang dianggap mendominasi kompetisi berkat belanja besar.
“Dalam pengeluaran bersih lima tahun terakhir kami hanya peringkat tujuh di Liga Inggris. Saya ingin menjadi yang pertama. Saya tidak mengerti mengapa klub tidak menghabiskan lebih banyak uang,” ujar Guardiola, yang kemudian menambahkan dengan nada ironis bahwa ia merasa “agak grumpy” terhadap kebijakan klubnya.
Data Transfer dan Peran Manajemen Klub
Guardiola menegaskan bahwa komentarnya bukan sekadar opini pribadi, melainkan merujuk pada data konkret. Angka-angka yang dirilis oleh Transfermarkt menunjukkan Manchester City mencatatkan pengeluaran bersih sekitar £396 juta dalam lima tahun terakhir, lebih rendah dibandingkan enam rival utamanya di Liga Inggris.
Menurut Guardiola, keberhasilan City justru terletak pada kemampuan manajemen klub dalam menyeimbangkan belanja dan penjualan pemain. Ia memberikan pujian kepada direktur olahraga saat ini, Hugo Viana, serta pendahulunya Txiki Begiristain, yang dinilai mampu mengelola aktivitas transfer secara efektif.
“Ini bukan soal pendapat. Ini fakta. Enam tim lain yang pengeluaran bersihnya lebih tinggi seharusnya memenangkan Liga Inggris, Liga Champions, dan Piala FA,” kata Guardiola, seraya menantang narasi umum yang selama ini berkembang.
Manchester City, Penjualan Pemain, dan Akademi
Salah satu aspek penting yang membuat net spend City relatif lebih rendah adalah kemampuan klub menghasilkan pendapatan besar dari penjualan pemain. Dalam lima tahun terakhir, City dilaporkan meraup sekitar £550 juta dari penjualan pemain, termasuk lebih dari £250 juta yang berasal dari pemain produk akademi sejak 2020.
Penjualan pemain muda yang berkembang melalui sistem pembinaan internal menjadi salah satu pilar strategi keuangan klub. Nama-nama seperti Julian Alvarez dan Raheem Sterling menjadi contoh nyata bagaimana City mampu melepas pemain dengan nilai tinggi. Alvarez bergabung dengan Atletico Madrid pada 2024 dengan nilai transfer rekor klub sebesar £81,5 juta, sementara Sterling dijual ke Chelsea dengan nilai sekitar £50 juta.
Pendekatan ini memperkuat citra City sebagai klub yang tidak hanya mengandalkan belanja, tetapi juga perencanaan jangka panjang dan pengembangan aset pemain.
Baca Juga
Konteks Prestasi dan Kritik Publik
Meskipun Manchester City gagal meraih trofi besar pada musim lalu, catatan prestasi mereka tetap mengesankan. Enam gelar Liga Inggris dari sembilan musim terakhir menjadi bukti dominasi domestik yang sulit dibantah. Fakta ini sering kali menjadi kontras dengan tudingan bahwa kesuksesan City semata-mata dibangun dari kekuatan finansial.
Guardiola menyoroti adanya perbedaan antara persepsi publik dan realitas data. Menurutnya, penilaian terhadap performa tim atau gaya bermain memang bersifat subjektif, tetapi angka-angka finansial bersifat objektif dan tidak dapat diperdebatkan.