fin.co.id - Musim 2025/26 Premier League menghadirkan ketegangan tinggi di papan bawah klasemen. Beberapa klub yang sebelumnya dianggap pasti turun kini menunjukkan perlawanan yang mengejutkan, sementara statistik historis tetap menekankan betapa sulitnya bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris.
Perubahan Dramatis di Zona Degradasi
Awal musim ini, West Ham United, Wolves, dan Burnley terlihat hampir pasti akan kembali ke Championship. Namun, sejak awal Januari, dinamika liga berubah. West Ham, yang hanya meraih satu kemenangan dalam 10 pertandingan menjelang tahun baru, mampu membalikkan moral tim setelah menang di babak ketiga FA Cup melawan Queens Park Rangers pada 11 Januari. Kemenangan beruntun atas Tottenham Hotspur dan Sunderland membuat jarak mereka dengan Nottingham Forest di posisi 17 hanya enam poin, meski kalah tipis 3-2 dari Chelsea di laga terakhir.
Burnley, meski berada di posisi 19, berhasil menahan imbang Liverpool dan Tottenham, membuka peluang menutup jarak ke zona aman hingga delapan poin jika menang atas Sunderland. Sementara itu, Wolves tetap berada dalam bahaya degradasi, namun performa mereka menunjukkan perbaikan, sehingga kemungkinan mencatat rekor poin terendah Premier League bisa dihindari.
Sejarah Memberikan Gambaran
Sejak berdirinya Premier League pada 1992, hanya sembilan tim yang berhasil membalikkan defisit enam poin atau lebih setelah lebih dari 23 pertandingan untuk bertahan. Contohnya Aston Villa (2019-20), Leicester City (2014-15), dan Sunderland (2013-14), yang masing-masing berhasil menyelamatkan diri meski menghadapi defisit tujuh poin. Ini menunjukkan bahwa peluang klub-klub papan bawah musim ini tetap tipis, meski ada perubahan performa.
Opta menghitung peluang bertahan untuk klub-klub bawah: Wolves hanya 0,02%, Burnley 3,54%, dan West Ham sedikit lebih tinggi yaitu 17,06%. Dengan laga melawan Burnley berikutnya, West Ham yang sebelumnya dianggap “mati” kini bermain dengan kebebasan dan semangat untuk meraih hasil maksimal.
Klub Lain yang Terancam
Selain tiga klub terbawah, ada empat klub lain yang ikut merasakan tekanan: Nottingham Forest, Leeds United, Crystal Palace, dan Tottenham Hotspur. Tottenham berada di posisi tertinggi dari kelompok ini, menempati peringkat 14 dengan 29 poin, namun performa inkonsisten membuat mereka tidak sepenuhnya aman. Crystal Palace, yang kehilangan kapten Marc Guehi ke Manchester City dan manajer Oliver Glasner yang akan pergi akhir musim, belum menang dalam 12 laga terakhir di semua kompetisi. Nottingham Forest, mantan klub Nuno Espirito Santo, berada enam poin di atas zona degradasi, sejajar dengan Leeds United.
Berapa Poin yang Dibutuhkan untuk Bertahan?
Analisis musim-musim sebelumnya menunjukkan bahwa tim yang mengumpulkan minimal 36 poin biasanya aman dari degradasi. Dalam era 20 tim sejak 1995-96, rata-rata poin yang dibutuhkan untuk bertahan adalah 35,53, dibulatkan menjadi 36. Statistik lebih lanjut menunjukkan tingkat keamanan meningkat: 80% untuk 38 poin, 90% untuk 40 poin, dan 100% untuk 43 poin atau lebih.
Ironisnya, West Ham memegang rekor sebagai tim yang terdegradasi meski mengumpulkan poin terbanyak di era 20 tim, yakni 42 poin pada musim 2002-03. Sunderland (40 poin, 1996-97) dan Bolton (40 poin, 1997-98) juga pernah turun meski mendekati angka 40 poin.
Kesimpulan
Musim ini menunjukkan bahwa pertempuran degradasi di Premier League bisa berubah cepat. West Ham dan Burnley membuktikan bahwa perubahan performa dan kemenangan penting dapat meningkatkan peluang bertahan, meski statistik historis menekankan betapa sulitnya situasi ini. Klub-klub papan bawah harus mengoptimalkan setiap laga dan memanfaatkan momentum untuk menghindari catatan degradasi yang akan masuk sejarah liga.
Referensi Internasional:
BBC Sport – Who is in the Premier League relegation fight and what is needed for survival
Opta Sports – Premier League Relegation Statistics