fin.co.id - United Parcel Service (UPS) mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap hingga 30.000 karyawan sepanjang tahun ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi bisnis besar-besaran yang tengah dijalankan perusahaan pengiriman paket terbesar di dunia itu, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada Amazon sebagai pelanggan utama.
Keputusan ini diumumkan di tengah laporan kinerja keuangan yang justru menunjukkan hasil positif. Pada kuartal terakhir tahun lalu, UPS membukukan pendapatan sebesar 24,5 miliar dolar AS dan memproyeksikan kenaikan pendapatan tahunan hingga 89,7 miliar dolar AS pada tahun mendatang. Namun di balik angka tersebut, manajemen menilai struktur operasional perusahaan masih perlu disesuaikan agar lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Mengurangi Ketergantungan pada Amazon
Selama bertahun-tahun, Amazon menjadi pelanggan terbesar UPS sekaligus tulang punggung volume pengiriman perusahaan. Namun volume besar tersebut dinilai tidak selalu sejalan dengan keuntungan. UPS secara terbuka menyebut pengiriman untuk Amazon sebagai aktivitas yang “sangat menekan margin laba”.
Sejak tahun lalu, UPS mulai menjalankan rencana untuk mengurangi ketergantungan terhadap raksasa e-commerce tersebut. Fokus perusahaan dialihkan ke pelanggan yang dinilai lebih menguntungkan, seperti perusahaan layanan kesehatan dan sektor bisnis dengan nilai pengiriman tinggi.
CEO UPS, Carol Tomé, menjelaskan arah kebijakan ini dengan tegas. Ia menyatakan, “Kami berada di enam bulan terakhir dari rencana percepatan pengurangan volume Amazon. Sepanjang tahun 2026, kami berencana memangkas sekitar satu juta paket per hari sambil terus menata ulang jaringan operasional kami.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa langkah ini bukan keputusan sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang.
Skema PHK dan Penutupan Fasilitas
PHK yang direncanakan UPS tidak dilakukan sepenuhnya melalui pemecatan langsung. Perusahaan akan menawarkan program pensiun dini atau buyout bagi pengemudi penuh waktu, serta tidak menggantikan karyawan yang keluar secara sukarela. Pendekatan ini dipilih untuk meminimalkan gejolak sosial dan konflik ketenagakerjaan, mengingat sebagian besar tenaga kerja UPS tergabung dalam serikat pekerja.
Pada tahun sebelumnya, UPS telah memangkas sekitar 48.000 pekerjaan dan menutup 93 fasilitas sebagai bagian dari pengurangan pengiriman Amazon. Tahun ini, perusahaan berencana menutup 24 fasilitas tambahan pada paruh pertama tahun berjalan. Langkah-langkah tersebut menunjukkan skala restrukturisasi yang luas dan berdampak langsung pada jaringan logistik global UPS.
Berdasarkan laporan tahunan 2024, UPS mempekerjakan sekitar 490.000 orang di seluruh dunia, dengan hampir 78.000 di antaranya berada pada posisi manajemen. Dengan angka tersebut, pemangkasan 30.000 karyawan menjadi salah satu langkah efisiensi terbesar dalam sejarah perusahaan.
Persaingan Logistik yang Kian Ketat
Perubahan strategi UPS juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika industri logistik global. Amazon dalam beberapa tahun terakhir secara agresif mengembangkan jaringan pengirimannya sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan pada perusahaan pengiriman pihak ketiga seperti UPS, FedEx, dan Layanan Pos Amerika Serikat (USPS).
Pada 2024, Amazon tercatat menangani sekitar 6,3 miliar pengiriman di Amerika Serikat, melampaui volume pengiriman UPS dan FedEx. Berdasarkan laporan indeks pengiriman paket Pitney Bowes, Amazon diproyeksikan akan melampaui USPS dalam volume pengiriman domestik pada 2028. Perkembangan ini mengubah peta persaingan dan memaksa perusahaan logistik tradisional untuk meninjau ulang model bisnis mereka.
Baca Juga
Dampak Tambahan dan Penyesuaian Armada
Selain pengurangan tenaga kerja dan penutupan fasilitas, UPS juga mengumumkan penghentian resmi penggunaan armada pesawat kargo MD-11. Keputusan ini diambil setelah kecelakaan fatal di Louisville, Kentucky, pada November lalu. Pesawat tersebut, yang mencakup sekitar 9 persen dari total armada UPS, telah dihentikan operasinya sejak insiden tersebut.