Bukan Sekadar Cuaca, Hujan Deras Jelang Imlek Diyakini Simbol Guyuran Rezeki Berlimpah

fin.co.id - 29/01/2026, 09:38 WIB

Bukan Sekadar Cuaca, Hujan Deras Jelang Imlek Diyakini Simbol Guyuran Rezeki Berlimpah

Filosofi air dalam tradisi Tionghoa dan kaitannya dengan keberuntungan serta kemakmuran, hujan jelas Imlek adalah rezeki berlimpah.Foto:Ilust/unsplash@YS

fin.co.id - Bagi sebagian orang, hujan terus-menerus mungkin dianggap sebagai penghambat aktivitas. Namun, bagi masyarakat yang merayakan Imlek, rintik air yang jatuh dari langit justru menjadi kabar baik yang sangat dinantikan. Dalam kepercayaan Tionghoa, hujan yang turun menjelang atau tepat pada hari raya Imlek bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan simbol kuat datangnya rezeki yang melimpah.

Simbol Keberuntungan dan Kemakmuran

Secara filosofis, elemen air dalam tradisi Tionghoa sangat erat kaitannya dengan keberuntungan (Hocky) dan kemakmuran. Air dianggap sebagai sumber kehidupan yang mengalirkan energi positif. Oleh karena itu, hujan deras yang turun dianggap sebagai tanda bahwa tahun yang baru akan "dibasahi" oleh berkah dan keuntungan finansial yang terus mengalir tanpa henti.

Budayawan menjelaskan bahwa istilah "Gong Xi Fa Cai" yang sering diucapkan memiliki makna harapan akan kemakmuran. Kehadiran hujan seolah menjadi pengesahan alam bahwa doa-doa untuk mendapatkan kesejahteraan sedang dikabulkan. Semakin deras hujan yang turun, sebagian masyarakat percaya bahwa rezeki yang akan didapatkan pun akan semakin besar.

Kaitan dengan Tradisi Agraris Secara historis, kepercayaan ini juga berakar dari peradaban agraris di Tiongkok kuno. Imlek menandai datangnya musim semi. Bagi para petani, hujan adalah anugerah terbesar karena merupakan kunci sukses untuk memulai musim tanam. Tanpa hujan, lahan akan kering dan panen bisa gagal. Itulah mengapa hujan identik dengan keberhasilan dan kecukupan pangan bagi keluarga.

Tetap Bersyukur di Tengah Basah

Meski Jakarta kini sedang menghadapi tantangan genangan air, sudut pandang budaya ini memberikan sisi optimisme tersendiri. Masyarakat diajak untuk melihat sisi terang di balik mendung yang menggantung. Hujan yang mendera dianggap sebagai proses "pembersihan" sisa-sisa kemalangan di tahun lama untuk menyambut harapan baru yang lebih segar di Tahun Kuda.

Tentu saja, di samping mempercayai simbolisme rezeki, masyarakat juga tetap dihimbau untuk menjaga lingkungan agar berkah hujan tidak berubah menjadi bencana. Dengan menjaga kebersihan saluran air, hujan yang turun pun bisa dinikmati dengan penuh rasa syukur sebagai pembuka pintu kemakmuran.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID