fin.co.id - Komentar Presiden AS Donald Trump soal tentara NATO tidak bertempur di garis depan di Afghanistan memicu reaksi keras di Inggris.
Seorang menteri Inggris mengatakan pada Jumat, 23 Januari 2026, bahwa Trump "jelas salah" karena mengklaim bahwa tentara NATO tidak bertempur di garis depan di Afghanistan.
Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump tampaknya tidak menyadari bahwa 457 tentara Inggris tewas dalam pertempuran di negara Asia Selatan tersebut setelah serangan 11 September terhadap Amerika Serikat.
"Mereka akan mengatakan mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan. Dan memang benar, mereka sedikit tertinggal, sedikit di luar garis depan," kata Trump kepada media AS tersebut.
Trump juga mengulangi pernyataannya, bahwa NATO tidak akan membantu Amerika Serikat jika diminta.
Faktanya, setelah serangan 11 September, Inggris dan sejumlah sekutu lainnya bergabung dengan AS sejak tahun 2001 di Afghanistan setelah AS menggunakan klausul keamanan kolektif NATO.
Selain pasukan Inggris, pasukan dari negara-negara sekutu NATO lainnya termasuk Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Denmark, serta negara-negara lain juga gugur.
PM Inggris Akan Membahas Masalah Ini dengan Trump
Menteri Kesehatan Stephen Kinnock mengatakan, ia memperkirakan Perdana Menteri Keir Starmer akan mengangkat masalah ini dengan Trump.
"Saya pikir dia pasti akan mengangkat masalah ini dengan presiden. Dia sangat bangga dengan angkatan bersenjata kita, dan dia akan menjelaskan hal itu kepada presiden," katanya kepada Radio LBC.
Baca Juga
"Komentar Trump "jelas salah" dan "sangat mengecewakan," kata Kinnock kepada stasiun televisi Sky News.
"Apa yang dia katakan tidak masuk akal, karena faktanya satu-satunya saat pasal 5 diaktifkan adalah untuk membantu Amerika Serikat setelah 9/11," lanjutnya.
"Dan banyak sekali tentara Inggris serta tentara dari sekutu NATO Eropa lainnya mengorbankan nyawa mereka untuk mendukung misi Amerika, misi yang dipimpin Amerika di tempat-tempat seperti Afghanistan dan Irak," tambahnya.
Menurut angka resmi Inggris, 405 dari 457 korban Inggris yang meninggal di Afghanistan tewas dalam aksi militer musuh. Sementara AS dilaporkan kehilangan lebih dari 2.400 tentara.