fin.co.id - Jumlah korban tewas akibat gelombang protes nasional di Iran dilaporkan menembus angka 5.000 jiwa. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency/HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat sedikitnya 5.002 orang meninggal dunia sejak demonstrasi pecah akhir Desember lalu.
Dalam laporan terbarunya yang dirilis Kamis (23/1), HRANA menyebut aparat keamanan Iran juga telah menangkap sedikitnya 26.752 orang hingga hari ke-26 aksi protes.
Selain itu, sedikitnya 7.391 demonstran dilaporkan mengalami luka serius akibat bentrokan selama unjuk rasa berlangsung.
Iran diguncang gelombang demonstrasi besar sejak 28 Desember 2025, yang bermula di kawasan Grand Bazaar, Teheran.
Aksi protes tersebut dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi yang semakin menekan kehidupan masyarakat.
Dalam waktu singkat, demonstrasi meluas ke berbagai kota besar dan wilayah lain di Iran, berubah menjadi protes nasional yang menyoroti kebijakan ekonomi, tata kelola pemerintahan, serta kondisi sosial yang kian sulit.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan terhadap kelompok yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata”.
Otoritas Iran mengeklaim kelompok tersebut terlibat dalam sejumlah serangan terhadap fasilitas publik dan keamanan di berbagai wilayah.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat melontarkan ancaman akan “bertindak keras” apabila terjadi pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa.
Namun di sisi lain, Trump juga memuji langkah Teheran setelah muncul laporan bahwa pemerintah Iran membatalkan ratusan eksekusi mati yang sebelumnya dijadwalkan.
Baca Juga
Hingga kini, situasi di Iran masih dilaporkan tegang, dengan aparat keamanan tetap disiagakan di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi aksi lanjutan.