fin.co.id - Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (NU) secara terbuka mendesak Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf untuk meninggalkan jabatan mereka. Gerakan ini meminta kedua pucuk pimpinan tersebut menyerahkan tampuk kepemimpinan organisasi kepada Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) demi meredam konflik internal yang kian mengkhawatirkan.
Inisiator Gerakan Kebangkitan Baru NU, Herry Haryanto Azumi, memandang langkah mundur ini sebagai jalan keluar paling bermartabat. Menurutnya, penyerahan mandat kepada AHWA menjadi solusi konkret untuk mengakhiri perbedaan tajam dan menjaga keutuhan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
"Kami meminta secara hormat kepada Rais Aam PBNU dan Ketua Umum untuk menyerahkan mandat organisasi kepada Ahlul Halli Wal Aqdi. Ini adalah cara terbaik untuk keluar dari konflik dan perbedaan," ujar Herry dalam konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat 18 Desember 2025
Herry menekankan bahwa polemik yang berlarut-larut di tubuh PBNU bukan sekadar urusan elite organisasi. Ia menilai perpecahan internal ini memiliki dampak domino yang berbahaya bagi masa depan organisasi dan umat secara luas. Bahkan, ia menggarisbawahi bahwa stabilitas NU sangat berpengaruh pada stabilitas bangsa dan negara.
"Kalau kita tidak bisa keluar dari perbedaan ini dengan baik, maka kita sedang membahayakan masa depan organisasi, kita membahayakan umat, kita membahayakan bangsa dan negara," tegas Ketua PP ISNU tersebut.
Oleh sebab itu, ia menyerukan kepada seluruh jajaran pengurus NU di tingkat wilayah (PWNU) hingga tingkat cabang (PCNU) untuk merapatkan barisan. Herry meminta para pengurus daerah tidak terombang-ambing oleh konflik pusat dan tetap mengikuti arahan Ahlul Halli Wal Aqdi sebagai otoritas tertinggi dalam mencari solusi organisasi.
Selain menuntut pengunduran diri pimpinan pusat, Gerakan Kebangkitan Baru NU juga mengingatkan bahaya munculnya dualisme kepengurusan. Herry menegaskan bahwa semua pihak harus menutup rapat pintu bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah NU menjadi dua kubu kepemimpinan.
Ia menilai, membiarkan atau mendukung adanya dua matahari kembar dalam kepengurusan sama saja dengan mengkhianati cita-cita besar para pendiri NU. Soliditas organisasi harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan faksi atau kelompok tertentu.
"Jangan ada dualisme kepengurusan, jangan biarkan kesempatan terjadi dualisme, jangan dukung dualisme. Karena sejatinya kita sama saja mendukung perpecahan organisasi," pungkas tokoh NU tersebut. (*#).