Oleh: Irvan Kurniawan
Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN Veteran Jawa Timur
Pendahuluan: Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian
Perubahan iklim global memicu anomali cuaca ekstrem, termasuk periode curah hujan tinggi yang berkepanjangan. Meskipun air adalah elemen vital bagi pertanian, kelebihan air justru membawa dampak negatif yang signifikan, terutama dalam memicu lonjakan populasi hama dan penyakit pada tanaman.
Petani diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan strategi mitigasi yang adaptif.
Konsep Segitiga Penyakit
Konsep ini berasal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, tetapi juga dapat diterapkan dalam bidang ilmu hama. Penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga faktor, yaitu patogen, inang, dan lingkungan, saling mendukung. Inang dalam kondisi rentan, patogen bersifat virulen (tingkat infeksi tinggi) dan jumlah yang memadai, serta lingkungan yang kondusif. Lingkungan terdiri dari komponen fisik (suhu, kelembaban, cahaya) dan biotik (predator alami, organisme kompetitor). Dari konsep tersebut, jelas bahwa perubahan pada salah satu komponen akan memengaruhi intensitas penyakit yang muncul.
Mekanisme Peningkatan Penyakit
Curah hujan yang intens menciptakan kondisi mikro-iklim yang sangat ideal bagi perkembangbiakan patogen tertentu, terutama dari kelompok jamur (fungi) dan bakteri.
- Kelembaban Tinggi dan Suhu Optimal: Air hujan meningkatkan kelembaban relatif di sekitar tanaman dan permukaan tanah. Kelembaban di atas 80% dan suhu hangat (misalnya, 25-30°C) menjadi katalis bagi spora jamur untuk berkecambah dan menginfeksi jaringan tanaman (Susanti et al., 2020).
- Penyebaran Patogen: Air hujan berperan sebagai vektor utama. Percikan air dapat membawa spora jamur (seperti pada penyakit blas padi atau antraknosa) atau sel bakteri (seperti pada penyakit kresek/hawar daun bakteri) dari satu tanaman sakit ke tanaman sehat dalam skala luas. Selain itu, genangan air di lahan memicu kondisi anaerob (minim oksigen) yang melemahkan akar tanaman, menjadikannya rentan terhadap patogen tular tanah (Wisnubroto et al., 2024).
- Contoh Penyakit Kunci:
- Padi: Penyakit Blas disebabkan oleh Pyricularia oryzae dan Kresek/Hawar Daun Bakteri disebabkan oleh Xanthomonas oryzae.
- Cabai/Tomat: Penyakit Busuk Buah/Busuk Akar disebabkan oleh Phytophthora spp..
Mekanisme Peningkatan Hama
Curah hujan ekstrem tidak hanya memicu penyakit, tetapi juga dapat memengaruhi siklus hidup hama serangga.
- Peningkatan Kehidupan Vektor: Beberapa hama, seperti Wereng Cokelat (WBC) pada padi, menunjukkan pola populasi yang kompleks terkait musim hujan. Curah hujan tinggi pada periode awal tanam dapat mencuci hama, namun periode genangan dan peningkatan kelembaban dapat mendukung inang alternatif atau memicu fase perkembangbiakan yang eksplosif setelah hujan mereda (Sofyan et al., 2019).
- Hama Penggerek: Kelembaban tinggi juga mendukung aktivitas hama penggerek batang, karena tanaman yang tumbuh lebat dan lembab menawarkan tempat berlindung dan kondisi yang optimal (Rifai et al., 2020).
- Kehilangan Predator Alami: Hujan deras seringkali menghanyutkan atau mengganggu populasi predator alami hama, seperti laba-laba atau serangga parasitoid, yang berujung pada hilangnya kontrol biologis dan lonjakan populasi hama target.