fin.co.id - Koperasi Sarana Bangun Lampung (Sabalam) menjadi salah satu contoh sukses koperasi berbasis pertanian yang mampu menghubungkan petani lokal dengan pasar global. Lewat dukungan dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) sejak 2022, koperasi ini membuktikan bahwa pembiayaan yang tepat sasaran dapat menciptakan dampak signifikan bagi pertanian rakyat dan perdagangan ekspor.
Berbasis di Provinsi Lampung, Sabalam berhasil mengembangkan sistem usaha pertanian terpadu yang melibatkan petani kecil hingga pelaku ekspor. Dengan menyasar komoditas unggulan seperti lada, cengkeh, kayu manis, dan pala, koperasi ini memperkuat daya saing sektor rempah lokal sekaligus membuka akses ke pasar luar negeri.
Ketua Koperasi Sabalam, Supriyanto, menuturkan bahwa koperasi yang berdiri sejak tahun 2019 itu awalnya menghadapi tantangan klasik berupa minimnya modal dan terbatasnya akses pendanaan. Namun, titik balik terjadi saat mendapatkan dukungan LPDB.
“Kami memulai dengan kondisi yang serba terbatas, tapi dengan semangat membangun ekosistem pertanian dari hulu ke hilir. Berkat dana bergulir dari LPDB, kami mampu meningkatkan kapasitas usaha koperasi, memperluas pembinaan kepada petani, dan mendorong produk rempah-rempah ke pasar ekspor,” ujar Supriyanto dalam keterangannya, Kamis, 24 Juli 2025.
Kini, Sabalam telah menjalin kemitraan strategis dengan CV Spice Solution Indonesia (SSI), perusahaan yang memiliki jaringan distribusi ekspor global. Koperasi bertindak sebagai pemasok utama untuk berbagai jenis rempah, termasuk cabai jawa dan kunyit, ke sejumlah negara tujuan.
Koperasi ini juga menerapkan sistem keanggotaan yang efisien dengan menunjuk pengurus kelompok tani sebagai perwakilan anggota, sementara pembinaan dilakukan langsung kepada para petani melalui pendekatan klaster di sejumlah wilayah seperti Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesawaran.
Lebih jauh, Supriyanto menggarisbawahi pentingnya dukungan LPDB dalam membangun kredibilitas koperasi di mata petani, pembeli, dan mitra usaha.
“Dana bergulir yang diperoleh memungkinkan koperasi melakukan pembayaran tunai kepada petani dan menjaga kesinambungan pasokan bahan baku kepada eksportir,” ungkapnya.
Dengan model pembinaan yang terstruktur dan kerja sama yang kuat antar pemangku kepentingan, Sabalam menjadi bukti bahwa koperasi modern dapat memainkan peran kunci dalam mengembangkan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.
(Adm)