IHSG Meroket: Apa yang Menjadi Faktor di Balik Kenaikan dan Strategi Investasi Terbaik Saat Ini?

fin.co.id - 09/09/2024, 07:30 WIB

IHSG Meroket: Apa yang Menjadi Faktor di Balik Kenaikan dan Strategi Investasi Terbaik Saat Ini?

Ilustrasi - Pergerakan perekonomian global (dok pexels-nataliya-vaitkevich)

Oleh: Sigit Nugroho, Redaktur fin.co.id


Bursa saham Indonesia ditutup dengan gemilang pada akhir pekan pertama September, Jumat, 6 September 2024, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level penutupan tertinggi di angka 7.722, naik 0,53 persen dari posisi pekan lalu di 7.671.

Kenaikan ini menarik perhatian investor asing yang mencatat arus masuk ekuitas sebesar USD875 juta, dengan sektor Keuangan dan Kesehatan memimpin kenaikan.

Namun, tidak semua sektor mencatatkan kinerja positif. Sektor Bahan Dasar dan Energi mengalami penurunan masing-masing sebesar -2,10 persen dan -0,68 persen, yang turut mempengaruhi dinamika pasar.

Sementara itu, pasar global juga menunjukkan dinamika yang bervariasi dengan reli pada US Treasury (+1,21 persen) seiring ekspektasi penurunan suku bunga, sementara harga minyak mentah mengalami penurunan tajam sebesar -7,55 persen dan Indeks Nikkei anjlok -5,84 persen.

Di pasar tenaga kerja AS, data pembukaan lapangan kerja menunjukkan penurunan, yang menjadi sinyal bagi potensi penurunan suku bunga yang lebih tinggi di tahun ini. Hal ini terlihat dari turunnya imbal hasil obligasi AS, dengan imbal hasil 2 tahun dan 10 tahun masing-masing turun menjadi 3,71 persen dan 3,70 persen.

Di sisi lain, China dan Jepang menunjukkan perbaikan di sektor manufaktur, dan Indonesia mencatatkan inflasi tahunan yang stabil dalam kisaran target BI, meskipun inflasi inti mengalami kenaikan kecil, tertinggi sejak Agustus lalu.

Strategi Investasi: Value, Growth, atau Momentum?

Dalam konteks investasi, ada tiga strategi utama yang bisa dipilih: Value, Growth, dan Momentum. Masing-masing strategi memiliki karakteristik, manfaat, dan risiko tersendiri, tergantung pada tujuan investasi dan profil risiko investor.

1. Value Investing: Strategi ini mencari saham yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Investor seperti Warren Buffett dikenal dengan pendekatan ini, yang biasanya unggul dalam jangka panjang, meskipun bisa tertinggal selama periode pertumbuhan ekonomi yang cepat.

2. Growth Investing: Fokus pada perusahaan dengan potensi pertumbuhan signifikan. Investor seperti Cathie Wood dari ARK Invest memanfaatkan strategi ini, yang cenderung berkinerja baik di pasar naik, tetapi bisa sangat fluktuatif dalam periode penurunan ekonomi.

3. Momentum Investing: Mengandalkan analisis teknis dan tren harga saham. Richard Driehaus, pelopor strategi ini, menunjukkan bahwa meskipun dapat memberikan keuntungan besar dalam jangka pendek, risiko juga sangat tinggi.

Dalam sepuluh tahun terakhir, hasil strategi ini bervariasi sesuai siklus pasar. Dari 2014 hingga 2019, strategi Momentum mengungguli pasar seiring dengan pertumbuhan moderat dan tren digitalisasi. Namun, selama periode 2019 hingga 2021, strategi Growth mendominasi pasar berkat stimulus fiskal dan moneter yang besar.

Sebaliknya, pada 2022, strategi Value muncul sebagai pemenang di tengah koreksi pasar dan ketegangan geopolitik. Saat ini, dengan reli teknologi AI, strategi Growth kembali menunjukkan kekuatan.

Ke depannya, pasar memperkirakan penurunan suku bunga dan skenario Soft Landing, yang kemungkinan akan mendorong investor untuk lebih fokus pada kualitas dan nilai.(*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi