Tabasheer Porang

fin.co.id - 06/08/2023, 06:00 WIB

Tabasheer Porang

ka koto manggaleh kain/ 

alah lamo indak basuo/ 

kawan kini alah jadi lain/ 

padi ndaknyo labek babuah/ 

tambah pupuak bali di Muaro/ 

bilo tatap jadi anak buah/ 

indak kamungkin jadi kayo/

sinung nugroho

Sekitar 3 bulan saya mengamati, jadi kira2 92 edisi Disway, tidak pernah sekalipun komen Ko Liang An di replay Ko Leong Putu, begutu juga sebaliknya. #tanyakenapa? #orangygsama?

Mirza Mirwan

Tentang Sarkhej Roza, yang disebut Bung Imau dalam reply untuk saya di bawah sana. Maaf, baru baca. Kalau sedang menulis, saya memang kurang intens menengok CHD. Sarkhej Roza adalah komplek pemakaman. Roza itu asalnya dari bahasa Arab "raudhah", yang artinya taman. Lokasinya sekitar 7-8 km di barat daya Ahmedabad. Yang mula-mula dimakamkan di komplek itu adalah Shaikh Ahmed Khattu Ganj Bakhsh. Beliau ini adalah teman dan penasehat spiritual Sultan Ahmed Shah I yang bertahta dari 1411 - 1442. Sepeninggal Sultan Ahmed -- dimakamkan di komplek Jama Masjid Ahmedabad, Shaikh Ahmed Khattu tinggal di Sarkhej hingga meninggal 1445. Sultan Muhammad Shah II lantas membangun komplek pemakaman untuk Shaikh Khattu dan selesai 1451. Sultan berikutnya, Mahmud Begada (cucu Ahmed I) mempercantik komplek pemakaman itu dengan membangun danau di sekelilingnya. Sultan Mahmud juga mempersiapkan makam untuk dirinya di komplek itu. Sultan berikutnya, Muzaffar Shah II dan permaisuri, Rajbai, juga dimakamkan di situ. Tentang masjid di Sarkhej Roza, memang megah. Tetapi kalah megah dan besar dari Jama Masjid di Ahmedabad. Bung Imau tidak sempat ke Sarkhej Roza, tapi mungkin sempat ke Gandhi Ashram di tepi Sungai Sabarmati. Kalau benar, berarti Bung Imau pernah datang ke tempat yang sama dengan yang didatangi Ratu Elizabeth dan tokoh-tokoh dunia lainnya.

Xiaomi A1

Sangat bersyukur hidup di Indonesia, Candi-candi direstorasi, benar2 krn ingin menggali sejarah, menghidupkan warisan leluhur nusantara. Bayangkan jika Indonesia ini mayoritas garis keras, tentu kita tak akan pernah melihat megahnya candi Borobudur. Salam :)

Riyono ,SKP

Sepertinya RG tidak sempat membaca kolo komentar di CHD. Kalau ikut merusuh di sini kan beliau bisa belajar kepada Kang Sabar Ikhlas untuk menghaluskan Gobl*k menjadi Goblik. Seperti anak zaman now yang memplesetkan Guk guk menjadi Anjay atau Anjrit. Atau seperti anak muda sekitaran plat AA,AB,AD yang misuh Bajindul,untuk 'menyamarkan'Bajingan. Mungkin beliau sudah bosan dengan kata dungu untuk lawan kata 'akal sehat'. Malah keluarnya 'Tol All' Mungkin untuk menghargai prestasi beliau yang banyak menginstruksikan pembangunan jalan berbayar. Sekarang sudah hampir terjadi semua jalan berbayar,Paling tidak bayar parkirnya.

Admin
Admin
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi