Tabasheer Porang

fin.co.id - 06/08/2023, 06:00 WIB

Tabasheer Porang

Jo Neka

"Rumah ibadah telah menjadi tragedi kemanusiaan bila penguasa di sekitar bèrubah"tulis pak Dahlan.Tetapi sejarah mencatat.Sejak ada Agama.Begitu banyak tragedi kemanusiaan atas nama Agama.Dan Sapiens jaman modern mulai bertanya tanya.Beragama untuk apa?Mari kita mengajarkan anak-anak kita.Bagaimana menghargai Kemanusiaan tanpa melihat Agama.Yang kita sama tahu karakter ini mulai memudar dari bumi Pertiwi.Salam kebangsaan.Majulah Jiwanya majulah Badanya.

imau compo

Tidak ada yg dilarang sebagai tempat shalat kecuali kuburan atau tempat yg bernajis. Pendapat saya, tidak ada perlunya mempertahankan tempat yg bukan "hak" utk dibangun mesjid. Perlu juga diketahui alasan-alasan umat Islam India, sebagai ilmu dan wawasan.

imau compo

Kenapa Alampir tidak mencontoh sahabat-sahabat Nabi SAW yg saleh dalam memerintah negara? Sewaktu Umar membebaskan Yerussalem, masyarakat setempat begitu menunggu perlindungannya karena kerajaan Romawi yg semena-mena khususnya terhadap orang Yahudi. Dari situs NU saya baca, kiblat orang yahudi dijadikan wanita-wanita romawi sbg tempat pembuangan pembalut. Anehnya, beberapa waktu yg lalu, saya menonton video seorang yahudi yg meludahi suster katolik di sebuah jalan di sekitar tembok ratapan. Lebih aneh lagi, mereka, yahudi, begitu buas thd muslim, padahal kakeknya muslim ini (Umar) yg membebaskan yahudi-yahudi dari kesewenang-wenangan Romaewi.

Mirza Mirwan

Kuil di Benares (Varanasi/Banaras) termasuk yang dihancurkan. Juga di Ayodhya. Kalau melihat masjid-masjid yang disengketakan umat Muslim dan Hindhu, kelihatannya memang masjid-masjid peninggalan Aurangzeb, yang dibangun di bekas kuil. Karena banyak masjid di tempat lain yang tak diusik, meskipun jamaahnya sedikit. Di Amdabad (Ahmedabad) setidaknya ada dua masjid minim jamaah tapi tidak diusik umat Hindhu.

Mirza Mirwan

Muhiuddin Muhammad Aurangzeb adalah sultan/kaisar ke-6 Kesultanan/Kekaisaran Mughal (Moghul: Persia). Sejak kanak-kanak ia memperoleh pendidikan dari para Mullah -- semacam kyai kalau di Jawa -- yang kemudian membentuk kepribadiannya menjadi manusia yang salih. Pada usia 40 tahun, Aurangzeb mengkudeta ayahnya: Shahabuddin Muhammad Khurram atau yang lebih dikenal sebagai Shah Jahan. Aurangzeb muak dengan tabiat ayahnya yang suka menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu, satu di antaranya untuk membangun musoleum untuk Mumtaz Mahal (ibunya Aurangzeb yang meninggal di usia 39) yang kemudian kita kenal sebagai Taj Mahal. Aurangzeb lantas mengurung ayahnya di benteng Agra. Dari benteng itu Shah Jehan sering memandang ke seberang Sungai Jumna di mana Taj Mahal berada. Sebenarnya benteng Agra dan Taj Mahal berada di sisi sungai yang sama, tetapi alur sungai menikung. Shah Jehan juga pernah berusaha mengkudeta ayahnya, Nuruddin Muhammad Salim yang lebih sohor disebut Jehangir (jehan-gir). Tetapi gagal. Dan ketika Jehangir meninggal, ia lantas membunuh saudara-saudaranya untuk mewarisi tahta sultan. Aurangzeb memakai gelar Alamgir -- sang penakluk dunia. Semasa Alamgir bertahta, 1658-1707, memang wilayah Mughal bertambah luas. Walaupun majoritas rakyat Mughal beragama Hindhu, Alamgir menetapkan Islam sebagai agama resmi. Lalu, waini, pada tahun 1669-1670 Aurangzeb memerintahkan penghancuran kuil-kuil Hindhu dan menggantinya dengan bangunan masjid. 

rid kc

Salah satu ciri warga negara yang pendidikannya rendah terlihat ketika pemilu. Agama, ras akan dimainkan oleh pelacur solitik. Jika warga terprovokasi itu menunjukkan tingkat pendidikan warga tersebut. 

Yuli Triyono

Saya khawatir, lama-lama akan ada sengketa untuk menentukan tempat ibadah itu dibangun di atas tanah wakaf, waris, hibah, beli tunai, beli diangsur, iuran bersama, dll.

Parikesit

Admin
Admin
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi