Rupiah Terdepresiasi, Imbas Isu Rencana The Fed Naikkan Suku Bunga Tahun Depan
JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (19/11/2021), seiring dengan Federal Reserve (The Fed) yang semakin membuka opsi kenaikan suku bunga acuan pada 2022 mendatang.
Mengutip data Bloomberg, pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.232 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 12 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan pasar spot Kamis (18/11/2021), di level Rp14.220 per dolar AS.
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menempatkan rupiah di posisi Rp14.237 per dolar AS atau melemah dari sebelumnya, yakni Rp14.231 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan depresiasi rupiah karena dolar AS diperdagangkan lebih tinggi terhadap sebagian besar mata uang.
"Penyebabnya The Fed sekarang mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih dini karena inflasi terus meningkat dan pemulihan ekonomi dari Covid-19 berlanjut. Data dari minggu sebelumnya juga menunjukkan inflasi naik ke level tertinggi dalam 30 tahun pada Oktober," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Jumat petang.
BACA JUGA: BI: Transaksi Uang Elektronik Tumbuh 55,54 Persen per Oktober 2021
Kamis, Presiden Fed Chicago Charles Evans, mengatakan bahwa dia "berpikiran terbuka" untuk mengubah kebijakan moneter pada 2022 jika inflasi terus tetap tinggi.
"Evans mengatakan kenaikan suku bunga pada 2022 bisa terjadi jika inflasi tinggi terus berlanjut. Walaupun Evans menambahkan bahwa ekspektasinya sebetulnya sebaliknya," ujar Ibrahim.
[caption id="" align="alignnone" width="1012"] Trend Pergerakan Rupiah Terhadap Dolar AS (TradingView)[/caption]
Sementara itu, data Kamis menunjukkan 268.000 klaim pengangguran awal diajukan di Amerika Serikat sepanjang minggu lalu. Meski mendekati level sebelum pandemi Covid-19, angka tersebut lebih tinggi dari 260.000 dalam perkiraan sejumlah ekonom. Kekurangan pekerja terus menjadi hambatan untuk pertumbuhan pekerjaan yang lebih cepat.
Faktor kedua, pelaku pasar khawatir bahwa Eropa tampaknya berada di ambang gelombang keempat infeksi Covid-19. Ini membuat Bank Sentral Eropa (ECB) diprediksi tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga, terlepas dari angka indeks harga produsen Jerman yang menunjukkan peningkatan 3,8 persen pada Oktober.
Dari dalam negeri, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas level 5% pada kuartal keempat 2021 dan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depan. Ini menjadi sentimen positif yang membantu menahan pelemahan rupiah, sehingga hanya tergerus tipis sore ini.
"Salah satu alasan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 5 persen adalah karena berbagai capaian indikator ekonomi dan pengendalian Covid-19. Selain itu Indonesia akan menjadi Presiden G-20 dan bisa dimanfaatkan untuk menarik investasi ke Tanah Air," papar Ibrahim.
"Memasuki Q4 2021, berbagai leading indicator menunjukkan perbaikan. Seiring perkembangan kasus positif Covid-19 yang terus membaik, mobilitas masyarakat mulai dibuka dan membuat berbagai sektor, terutama perdagangan, kembali tumbuh, sehingga potensi ekspor untuk terus naik dan PMI yang mencapai level lebih tinggi, diharapkan terus mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.
Sedangkan untuk perdagangan Senin minggu depan, Ibrahim menyebut mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.220 - Rp14.260 per dolar AS. (git/fin)