News . 17/11/2021, 16:28 WIB

Rupiah Loyo, Data Penjualan Ritel dan Inflasi AS Jadi Penyebab

Penulis : Admin
Editor : Admin

  JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi, pada penutupan perdagangan sore ini, Rabu (18/11/2021). Koreksi itu terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap tingginya penjualan ritel dan inflasi AS. Mengutip data Bloomberg, Rabu (17/11/2021) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.243 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 23 poin atau 0,17 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Selasa sore kemarin (16/11/2021) di level Rp14.220 per dolar AS. Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menempatkan rupiah di posisi Rp14.259 per dolar AS atau melemah dari Rp14.211 per dolar AS pada penutupan Selasa kemarin. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah melemah karena indeks dolar AS naik ke level tertinggi baru sejak Maret 2017. "Ini karena serangkaian data ekonomi yang kuat mendorong peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih besar," kata Ibrahim dalam keterangan hasil risetnya, Rabu (18/11/2021). Penjualan ritel di Amerika Serikat bulan lalu meningkat lebih besar dari yang diperkirakan. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel AS naik 1,7 persen pada Oktober, mengalahkan ekspektasi pasar dan menunjukkan belanja konsumen Amerika tetap kuat. Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard mengatakan pada hari Selasa kemarin bahwa The Fed harus mengarah ke arah yang lebih hawkish dalam persiapan untuk inflasi tinggi jangka panjang. "James menyatakan inflasi AS pada tingkat yang terus-menerus tinggi meningkatkan keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed dapat menaikkan kenaikan suku bunga lebih awal dari yang diharapkan," ungkap Ibrahim. BACA JUGA: Secara Teknikal IHSG Berada di Pola Bullish, 4 Saham Jadi Rekomendasi Faktor kedua, Eropa mengalami kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi akibat lonjakan baru dalam kasus Covid-19. Parlemen Jerman akan memberikan suara pada hari Kamis tentang langkah-langkah yang lebih ketat untuk menangani wabah tersebut. "Sementara Austria memberlakukan penguncian pada orang-orang yang tidak divaksinasi pada awal minggu. Prancis, Belanda, dan banyak negara di Eropa Timur juga berjuang untuk menahan infeksi," jelas Ibrahim. Dari dalam negeri, pemerintah melalui menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan rasio defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menurun hingga 3,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2021 atau mencapai Rp548,9 triliun. Ini menandakan bahwa defisit APBN mengalami penurunan dibandingkan bulan Oktober tahun lalu yang sebesar 4,67 persen terhadap PDB. Hal itu menjadi sentimen positif yang membantu pelemahan rupiah berlangsung tipis hari ini. "Dengan demikian, defisit anggaran pada tahun ini bisa tetap terkendali di atas 5 persen PDB, menurun dibanding realisasi tahun lalu yang berada di atas 6 persen PDB," pungkas Ibrahim. Sementara itu, untuk perdagangan besok, kurs rupiah kemungkinan  dibuka  berfluktuatif namun  ditutup melemah  di rentang   Rp14.230 - Rp14.280 per dolar AS. (git/fin)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id