News

IHSG Berpeluang Melemah, Simak Rekomendasi Analis

    JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berbalik arah melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (5/11/2021), setelah kemarin ditutup menguat 0,52 persen ke level 6.586. Berdasarkan analisa dari Tim Riset PT MNC Sekuritas untuk perdagangan hari ini, penguatan IHSG pada transaksi kemarin menimbulkan gap di rentang 6.561-6.583. Saat ini IHSG memiliki support di posisi 6.480 dan 6.436, sedangkan target resistance di level 6.627 dan 6.687. "Kami memperkirakan, pergerakan IHSG tersebut merupakan bagian dari wave [iv] atau wave A pada skenario merah. Pergerakan IHSG selanjutnya masih cenderung terkoreksi ke area 6.457 selama IHSG belum mampu break 6.627 dan 6.687," demikian analisa tim MNC Sekuritas pagi ini. Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan investor untuk mengakumulasi pembelian saham CENT, BBTN, BRPT dan ACES. BACA JUGA: Garuda Indonesia – Emirates Tandatangani Kerjasama “Code Sharing” Perkiraan yang sama disampaikan analis PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, yang menyebutkan pergerakan IHSG pada perdagangan akhir pekan ini akan berbalik mengalami pelemahan terbatas. "Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang untuk bergerak melemah terbatas dan di-trading-kan pada kisaran 6.510-6.619. Ada potensi menguat, namun akan menjadi setipis kertas," ujar Nico Demus. Pada perdagangan hari, kata dia, investor akan mencermati realisasi anggaran infrastruktur sepanjang 2021. "Pelaku pasar berharap realisasi anggaran infrastruktur dapat menjadi penopang naiknya konsumsi di dalam negeri pada semester II-2021," tuturnya. Pada satu sisi, lanjut Nico Demus, kenaikan jumlah proyek infrastruktur akan berdampak pada peningkatan produksi baja nasional hingga 2025, karena proyek pembangunan ibu kota baru menjadi katalis bagi pemerataan ekonomi. Produksi baja diperkirakan mencapai 12,27 juta ton di 2021, lebih tinggi 6,05 persen dari target tahun lalu. Pada 2022, kebutuhan baja dalam negeri bisa mencapai 19 juta ton dan terus meningkat hingga 23,34 juta ton di 2025. Saat ini kapasitas produksi baja dalam negeri sebanyak 4,9 juta ton per tahun, namun utilisasinya belum mencapai 100 persen. Sementara itu, sentimen dari luar negeri ada pada kebijakan Bank Sentral Inggris yang secara tidak terduga melawan ekspektasi pasar dengan mempertahankan tingkat suku bunga acuan. "Hal ini justru semakin mempertaruhkan kredibilitas BoE, karena lebih memprioritaskan risiko pada pertumbuhan ekonomi daripada inflasi," ujar Nico Demus. Dengan demikian, kata dia, saat ini investor diharapkan untuk mempertimbangkan pembelian saham SMBR dan WTON. Sedangkan, saham yang sedang dicermati Pilarmas Sekuritas adalah MEDC, PGAS dan MDKA. (git/fin)

Berita Terkait