-advertisement-
-advertisement-
HomeNasionalNaik Pesawat Harus PCR? Satgas: Tak Ada Lagi Seat Distancing

Naik Pesawat Harus PCR? Satgas: Tak Ada Lagi Seat Distancing

JAKARTA – Selain sudah divaksinasi dua kali, syarat penerbangan Jawa-Bali wajib menyertakan hasil tes PCR. Hal ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat pengguna moda transportasi udara. Satgas COVID-19 menyebut kebijakan itu dibuat karena sudah tidak lagi diterapkan seat distancing di dalam pesawat.

“Pengetatan metode testing menjadi PCR di wilayah Jawa-Bali dan non-Jawa-Bali level 3 dan 4 ini terus dilakukan. Mengingat sudah tidak diterapkannya seat distancing,” ujar Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, di Jakarta, Kamis (21/10).

Penumpang pesawat kali ini telah dibolehkan dengan kapasitas penuh. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari uji coba pelonggaran mobilitas demi pemulihan ekonomi di tengah kondisi kasus COVID-19 yang telah terkendali.

Tes PCR merupakan metode yang memiliki standar paling bagus. Karena lebih sensitivitas mendeteksi virus. Sensitivitas tes PCR lebih tinggi dibanding rapid antigen. “PCR diharapkan dapat mengisi celah penularan yang mungkin ada,” imbuhnya.

Untuk mengoptimalisasi upaya pencegahan penularan, pihak maskapai diminta menyiapkan 3 baris untuk dikosongkan. Hal itu digunakan memisahkan penumpang jika ditemukan yang bergejala saat perjalanan.

Perihal sudah tidak diterapkannya lagi aturan seat distancing tempat duduk di pesawat diatur dalam Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor 88 Tahun 2021.(rh/fin)

Berikut Isi SE Kementerian Perhubungan Nomor 88 Tahun 2021 Terkait Penerbangan

a) Ketentuan mengenai penerapan prinsip jaga jarak (physical distancing) di dalam pesawat udara kategori jet transport narrow body dan wide body yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri sesuai dengan konfigurasi tempat duduk dan pengaturan kursi penumpang (seat arrangement) berdasarkan karakteristik penumpang maksimal 70 persen kapasitas angkut (load factor) tidak diberlakukan, dan penyelenggara angkutan udara tetap wajib menyediakan 3 baris kursi yang diperuntukkan bagi penumpang yang terindikasi bergejala COVID-19.

b) Penetapan kapasitas terminal bandar udara ditempatkan paling banyak 70 persen dari jumlah penumpang waktu sibuk (PWS) pada masa normal, dan

c) Operasional bandar udara dilaksanakan sesuai dengan kondisi operasional masing-masing bandar udara, serta tetap wajib melayani operasional karena kondisi tertentu seperti angkutan logistik, kepentingan darurat/mendesak dan technical landing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-advertisement-
-advertisement-