-advertisement-
-advertisement-
HomeEkonomiPelonggaran PPKM, PTM, PON dan Kekhawatiran Gelombang Ketiga Covid-19

Pelonggaran PPKM, PTM, PON dan Kekhawatiran Gelombang Ketiga Covid-19

 

JAKARTA – Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono menyoroti pelonggaran aktivitas sosial ekonomi oleh pemerintah yang berdampak pada kemunculan berbagai klaster baru covid-19 seperti klaster Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan klaster PON XX Papua.

Seiring kondisi pandemi yang kian terkendali, pemerintah dengan percaya diri kini terus melonggarkan pembatasan berbagai aktivitas sosial ekonomi. Meningkatnya kembali mobilitas masyarakat secara signifikan ini, ironisnya terlihat beriringan dengan semakin melemahnya disiplin protokol kesehatan.

“Munculnya berbagai klaster Covid-19 mulai dari penyelenggaran pertemuan tatap muka sekolah hingga dari arena PON XX menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan,” kata Yusuf Wibisono dalam keterangannya, dikutip Minggu (17/10/2021).

Dia menambahkan bahwa pemerintah dan masyarakat seolah lupa bahwa Covid-19 masih ada dan kita hanya baru beberapa bulan yang lalu merasakan getirnya serangan virus ini. Begitu pendek ingatan bangsa ini yang pada Juni-Agustus 2021 lalu dihantam gelombang ke-2 begitu keras.

“Pemulihan pandemi Indonesia yang sangat menjanjikan ini kemudian memunculkan euphoria sebagian kalangan masyarakat dan bahkan berspekulasi bahwa Indonesia kini telah mencapai herd-immunity,” ujar Yusuf.

Yusuf menegaskan bahwa dengan penduduk yang telah mendapat vaksin ke-1 dan ke-2 berturut-turut baru di kisaran 35 dan 20 persen dari total penduduk, herd-immunity jelas masih jauh dari tercapai.

“Seandainya vaksinasi berjalan cepat dan optimal, herd-immunity tetap sulit diraih. Dalam skenario konservatif dengan cakupan vaksinasi di kisaran 74 persen populasi, dan dengan menggunakan asumsi daya penularan virus (R0) 3,0 seperti varian awal di Wuhan, maka dibutuhkan tingkat efikasi vaksin setidaknya 90 persen, untuk meraih herd-immunity,” ucap Yusuf.

Menurut Yusuf kehadiran varian baru yang jauh lebih menular, yaitu Alpha (R0 = 4,5) dan Delta (R0 = 6,5), membuat skenario herd-immunity akan sangat sulit tercapai, bahkan bisa dikatakan mustahil.

BACA JUGA: Berkaca dari Singapura, Indonesia Harus Waspada Gelombang Ketiga Covid-19

Dari simulasi yang dilakukan IDEAS, Untuk R0 = 4,5 setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 85 persen dengan cakupan vaksinasi 92 persen populasi. Sedangkan untuk R0 = 6,5 setidaknya dibutuhkan tingkat efikasi vaksin 90 persen dengan cakupan vaksinasi 94 persen populasi.

“Hipotesis lain dari kinerja tinggi pemulihan pandemi Indonesia adalah besarnya herd-immunity yang diperoleh bukan dari vaksin, namun dari paparan virus di masa lalu,” ungkap Yusuf.

Spekulasi ini mendapat dukungan dari beberapa temuan empiris. Survei serologi di DKI Jakarta pada Maret 2021 menemukan sekitar setengah penduduk Jakarta pernah terinfeksi Covid-19. Terkini, Universitas Washington mengestimasi sekitar 29 persen penduduk Indonesia pernah terinfeksi Covid-19.

“Survei kami pada Agustus 2021 menemukan hal serupa yaitu tingginya tingkat infeksi dari gelombang ke-2, terutama di Jabodetabek dan wilayah perkotaan. Dalam 3 bulan terakhir, sebanyak 20,8 persen responden di Jabodetabek mengaku pernah terpapar Covid-19,” beber Yusuf.

BACA JUGA: Kajian IDEAS: Herd Immunity Sulit Dicapai Meski Vaksinasi Massal Telah Optimal

Lebih jauh, 48,0 persen responden di Jabodetabek mengaku ada anggota keluarga inti mereka (anak, istri-suami, ayah-ibu, adik-kakak) yang pernah terpapar Covid-19 dalam 3 bulan terakhir.

“Fakta yang semakin sulit dibantah adalah imunitas populasi baik yang berasal dari vaksin maupun infeksi Covid-19 sebelumnya, tidaklah bertahan selamanya. Vaksin memberi perlindungan 6 bulan pasca vaksinasi, setelahnya perlindungan vaksin akan memudar secara perlahan,” tutur Yusuf.

Vaksin yang memiliki tingkat proteksi 90 persen terhadap Covid-19 misalnya, diperkirakan hanya akan efektif 70 persen setelah 6-7 bulan.

Fenomena reinfeksi juga menunjukkan bahwa imunitas dari paparan virus di masa lalu juga tidak bertahan selamanya. Survei IDEAS menunjukkan bahwa dalam 3 bulan terakhir, sebanyak 40,7 persen responden di Jabodetabek mengaku ada di antara responden, keluarga, kerabat, atau tetangga/teman dekat mereka, yang sudah pernah terpapar Covid-19 sebelumnya, kembali terpapar Covid-19 (reinfeksi) di gelombang ke-2.

“Situasi pandemi ke depan masih sangat dinamis, ketidakpastian masih sangat tinggi, lengah dan berpuas diri adalah sebuah kesalahan fatal, terlebih bagi negeri yang baru saja dihantam kerasnya serangan virus gelombang ke-2,” tutup Yusuf. (git/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-advertisement-
-advertisement-